Sultan Minta DAU Ditalangi Dana APBN Lainnya di Daerah

YOGYA (KRjogja.com) – Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X akhirnya melayangkan surat kepada Pemerintah Pusat untuk tidak menunda pencairan Dana Alokasi Umum (DAU) di DIY. Lebih baik DAU tetap dicairkan dan diminta pemangkasan dana-dana APBN lainnya yang ada DIY seperti Dana Keistimewaan (Danais) dan  Dana Alokasi Khusus (DAK) agar DAU tetap dicairkan.

"Sebetulnya apabila penundaan DAU ini ditanggung Pemda dalam arti PAD sebetulnya berat. Saya coba membuat surat kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) karena sebetulnya yang banyak ada di daerah mayoritas duit APBN bukan uang daerah," kata Sultan HB X kepada  KRjogja.com di Gedhong Wilis Kepatihan, Kamis (8/9/2016).

Sultan HB X menyampaikan anggaran dari pusat yang ada di DIY cukup banyak dan belum habis antara lain DAK sekitar Rp 50 miliar, Danais, uang untuk guru sekitar lebih Rp 1 miliar dan sebagainya yang notabene bukan uang APBD DIY dalam arti PAD. Pemda DIY cenderung menginginkan dana-dana APBN tersebut yang dipotong sehingga DAU tetap bisa didapatkan.

"Lebih baik saya bisa membayar gaji pegawai, masak gaji pegawai diutang. Saya hanya khawatir membayar DAU kalau tidak ada uang karena pajak tidak naik belum tentu dikembalikan padahal duit daerah. Jadi yang sisa dana-dana APBN masih banyak, kalau sisa Desember nanti ditarik ke pusat dan uang daerah habis," ungkapnya.

Raja Kraton Yogyakarta menegaskan agar bisa memotong Danais yang masih ada sekitar Rp 300 miliar dan diperkirakan sampai Desember 2016 tidak habis daripada tidak mendapat DAU daripada memangkas APBD 2016.  Pemda DIY tidak bisa menggunakan APBN kalau tidak sesuai dengan peruntukannya seperti Danais dan DAK sehingga terpaksa menggunakan APBD.

"Kalau DAU yang ditunda akhirnya ditalangi pakai APBD uangnya dikembalikan tidak masalah, jika tidak berarti tidak dapat 'ijol' dan yang sisa APBN.  Jadi kenapa uang APBN itu aja yang dipotong kan lebih dari Rp 600 miliar ada di DIY dan bukan PAD," tandas Sultan. (Ira)

BERITA REKOMENDASI