Sultan ‘Sapa Aruh’ Warga DIY Setelah Kasus Covid-19 Sentuh Angka 600 Perhari

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Gubernur DIY, Sri Sultan HB X melaksanakan sapa aruh secara daring kembali untuk warga masyarakat DIY, Selasa (22/06/2021) setelah terakhir Februari lalu. Sultan meminta warga masyarakat DIY tetap menerapkan protokol kesehatan di tengah naiknya kasus Covid-19 yang dalam tiga hari terakhir menyentuh angka 600-an kasus perhari.

Sultan menyampaikan bahwa lonjakan kasus positif Covid-19 mengingatkan kita semua, bahwa Jogja tetap harus ‘eling lan waspodo’. Eling kepada Gusti Allah, dan eling pada berbagai pengalaman yang pernah kita alami di masa pandemi.

“Kita juga tetap harus waspodo terhadap kemungkinan yang akan dihadapi, berusaha menjauhkan diri dari lengah, mangasah mingising budi, meningkatkan solidaritas sosial, berperan aktif dalam mencegah meluasnya pandemi, dengan berdisiplin menerapkan protokol pranatan anyar 5M kapan dan di manapun berada,” ungkap Sultan.

Beberapa langkah konkret menurut Sultan sudah berupaya dilakukan seperti percepatan vaksinasi, aktivasi fasilitas karantina dan isolasi gotong-royong di seluruh Kabupaten dan Kota, peningkatan kapasitas rumah sakit sebesar 30 persen untuk ruang perawatan Covid-19, peningkatan operasi gabungan penegakan hukum pelaksaanan protokol kesehatan, peningkatan pengaturan kehadiran karyawan dan tenaga kerja sebagai upaya mencegah terjadinya kerumunan di tempat kerja hingga penundaan pembelajaran tatap muka mulai tingkat perguruan tinggi hingga tingkat sekolah dasar.

“Tak dapat dipungkiri, masyarakat-lah yang menjadi subjek pencegahan meluasnya pandemi. Sebaik dan sekuat apapun regulasi hanya akan menjadi ‘aji godhong garing’ menjadi tak berarti apabila diabaikan dan tidak dilaksanakan dengan segenap hati. Kita harus lilo lan legowo, dengan menyadari, sedikit kelengahan dapat memperparah dampak pageblug ini. Ketertiban dan kedisiplinan masyarakat, dapat menjauhkan DIY dari opsi-opsi terakhir yang terpaksa diterapkan, apabila pandemi tak kunjung dapat terkendali,” tandas Sultan.

Berikut Isi Sapa Aruh Sultan :

PARIKAN Jawa yang menjadi tajuk Sâpâ-Aruh ini, “Eling lan Waspâdâ, Wilujeng Nir Sambekala”, tampaknya tepat sebagai pengingat bahwa untuk memenangkan perang, meraih “bagas-waras tanpâ rubada”—jauh dari gangguan penyakit, hanya jika kita “eling lan waspada”. “Eing” kepada Gusti Allah, dan “aling” setidaknya pada Protokol Kesehatan yang paling elementer, 3-M: “Memakai masker, Mencuci tangan, Menjaga jarak aman”.

Kita harus waspada terhadap munculnya berbagai klaster sebagai akibat kegiatan sosial masyarakat, hingga penularannya pun telah merambah ke ruang keluarga. Oleh sebab itu, kita harus menjaga sikap “manunggaling wargâ lan pamong” dalam menerapkan PPKM Mikro hingga tingkat RT. Maka, betapa pun ganasnya serangan Covid-19, niscaya kita pasti bisa memenangkan perang ini.

Tetapi selama ini, fakta implementasi PPKM Mikro belum dijalankan secara maksimal. Padahal, kita dihadapkan pada kematian atau Case Fatality Rate (CFR) nyaris menyentuh besaran angka nasional yang 2,7%, dan pemakaian tempat tidur atau Bed Occopancy Rate (BOR) yang melebihi angka 60%, melewati batas aman, selain keterbatasan kemampuan tenaga kesehatan. Jawabannya harus berupaya menjauhkan diri dari lengah, “mangasah-mingising budi”, meningkatkan kepekaan diri sebagai basis membangun solidaritas sosial.

Berbagai upaya menekan penyebaran Covid-19 telah dilakukan, diantaranya adalah:

1) Percepatan vaksinasi dalam semua jenjang usia;
2) Aktivasi karantina dan isolasi di Kabupaten dan Kota;
3) Peningkatan kapasitas rumah sakit untuk ruang perawatan Covid-19;
4) Peningkatan operasi gabungan penegakan hukum Protokol Kesehatan;
5) Pengaturan kehadiran tenaga kerja untuk mencegah kerumunan di tempat kerja; dan
6) Penundaan pembelajaran tatap muka di semua tingkatan pendidikan.

Saudara-Saudaraku Warga Jogja-Istimewa yang saya banggakan,

Tak dapat dipungkiri, masyarakat-lah yang menjadi subjek pencegahan meluasnya pandemi. Sebaik dan sekuat apa pun regulasi hanya akan menjadi “aji godhong aking”, tak berarti bagai daun kering, jika diabaikan dan tidak dilaksanakan dengan sepenuh hati. Kita harus “lilâ-lêgâwâ”, dengan menyadari, sedikit kelengahan bisa memperparah dampak pagêblug ini.

Kepada pemerintah kabupaten dan kota se-DIY, saya tekankan, urgensi memberlakukan kebijakan PPKM Mikro secara ketat dan terpadu sudah tak bisa ditunda lagi.
• Segera lakukan re-inisiasi gerakan Jogo Wargo;
• Kendalikan mobilitas dan aktifitas sosial masyarakat agar tidak menimbulkan klaster-klaster baru;
• Mengaktifkan fasilitas shelter komunal berbasis gotong royong di tingkat desa/kalurahan;
• Karantina wilayah dalam sekup lokal setingkat RT dan Padukuhan yang berstatus Zona Merah dengan pendampingan dari instansi terkait;

Saya percaya, gotong-royong dan solidaritas sosial masih menjadi kekuatan nyata warga Daerah Istimewa Yogyakarta. Sekali lagi, pemerintah dan masyarakat harus lumangkah sagatra, sesuai kearifan lokal masing-masing

Stay at home, tetap tinggal di rumah, menjadi pilihan terbaik saat ini. Dan, marilah kita jadikan rumah sebagai tempat meraup pahala dalam beribadah, tempat bekerja dalam mengabdi, tempat belajar yang nyaman bagi anak-anak kita. Jika memang demikian, Insha Allah, kita dijauhkan dari malapetaka, dalam kondisi “wilujang nir sambakala”. (Fxh)

 

BERITA REKOMENDASI