Sultan: Waspadai Angin Kencang dan Tanah Longsor

YOGYA, KRJOGJA.com – Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya terhadap ancaman angin kencang (puting beliung) dan tanah longsor. Karena dalam beberapa hari ke depan cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai petir dan angin kencang diprediksikan masih akan terjadi di wilayah DIY. Oleh karena itu guna mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tak diinginkan, alangkah baiknya apabila masyarakat selalu waspada.

"Terkait dengan cuaca ekstrem yang kemungkinan akan terjadi di wilayah DIY, kami sudah melakukan konsolidasi dengan BPBD. Jadi, tinggal bagaimana masyarakat bisa mewaspadai perubahan cuaca. Memang kemungkinan terjadinya banjir di wilayah DIY kecil, karena
sungai-sungainya cukup dalam. Tapi potensi angin kencang dan tanah longsor tetap ada, oleh karena itu masyarakat saya minta selalu waspada,” kata Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kompleks Kepatihan, Rabu (8/1).

Sultan mengungkapkan, apabila dilihat dari kondisi geografis DIY yang dikelilingi pegunungan, bencana alam seperti angin kencang bisa menjadi ancaman yang datang setiap saat. Untuk mengantisipasi hal itu, selain memetakan daerah-daerah rawan bencana, masyarakat juga dituntut proaktif. Salah satu caranya dengan memangkas pohon yang sudah rapuh atau dahannya lebat. Sehingga saat terjadi angin kencang tidak mudah roboh.

"Kalau untuk titik-titik rawan bencana sudah dipetakan oleh BPBD masing-masing daerah. Tinggal bagaimana mengantisipasi angin kencang (puting beliung) dan tanah longsor yang kemungkinan terjadi. Karena dampak dari adanya puting beliung tidak hanya pohon roboh tapi akarnya juga tercerabut, jadi perlu diwaspadai,” terang Sultan.

Terpisah, Kepala kelompok data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Yogyakarta, Etik Setyaningrum MSi menambahkan, berdasarkan hasil pengamatan curah hujan di stasiun klimatologi pada dasarian 1 bulan Januari 2020 ini tercatat jumlah curah hujan sudah mencapai di atas 100 mm (kategorinya sudah tinggi).
Begitu pula didasarian berikutnya diprediksi frekuensi dan intensitas hujan masih akan tinggi. Hal itu diperkuat dengan pertumbuhan awan-awan hujan di Yogyakarta antara lain masih menguatnya angin Monsun Asia (bersifat basah).

Hal itu juga didukung dengan terbentuknya pola konvergensi atau pertemuan angin serta belokan angin khususnya di bagian Selatan Indonesia. ”Selain beberapa hal di atas meningkatkan pertumbuhan awanawan hujan di DIY dipicu oleh aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) fase basah yang aktif di wilayah Indonesia. Melihat kondisi dinamika atmosfer dan laut di atas, maka diprediksi curah hujan didasarian 2 hingga 3 bulan Januari 2020 ini jumlah curah hujan akan tetap tinggi (berkisar di atas 100 mm/dasarian). "Kondisi ini akan berlanjut hingga Februari 2020 mengingat puncak puncak musim hujan di DIY akan jatuh pada periode ini,” papar Etik.

Menyikapi kondisi tersebut, Etik mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan. (Ria)

BERITA REKOMENDASI