Suplai Kedelai Tergantung Impor, Saatnya Berdayakan Petani

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRjogja.com – Naiknya harga kedelai saat ini menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dan pihak terkait untuk melakukan evaluasi terhadap ketergantungan pada kedelai impor. Padahal kualitas kedelai lokal yang dihasilkan para petani, jauh di atas kedalei impor yang masuk di Indonesia.

“Saat ini impor kedelai sudah sangat besar, hingga 90 persen. Sedangkan kontribusi kedelai dari para petani kita hanya sekitar 10 persen,” ujar Dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM, Dr Atris Suyantohadi STP MT dalam Bincang di Ruang Editorial KR, Kamis (14/1). Lebih lengkah perbincangan tersebut, dapat disaksikan tayangan ulangnya  di Channel Youtube Kedaulatan Rakyat TV.

Dikemukakan Dr Atris, kualitas hasil produksi kedelai nasional saat ini ditingkat petani sebenarnya tidak kalah dibanding dengan kualitas impor. Bahkan hasil kualitas produksi kedelai nasional bisa menembus pasar Eropa dan Jepang untuk produksi tahu dan tempe karena sifatnya yang murni non rekayasa genetik (Genetically Modified Organism /GMO).

Perusahaan Multinasional pun masih banyak yang memerlukan pasokan kedelai yang non GMO. Pasar kedelai nasional dengan Industri sejatinya terbuka lebar, demikian juga untuk produksi Tahu dan Tempe di Indonesia maupun di luar negeri.  Ketersediaan pasokan kedelai petani akan dapat di lakukan apabila dari sisi kepastian harga jual kedelai petani ini bisa diberikan,

Menurut Dr Atris, langkah yang harus dilakukan untuk memberdayakan para petani adalah dengan meningkatkan ketersediaan benih dan ketersediaan lahan. Selain itu membangun kemitraan petani. Sehinga memunculkan kesiapan bahwa produksi nasional 2021.

“Dengan memberdayakan petani, dan kepastian harga, maka akan meningkatkan minat petani menanam kedelai. Sejauh ini sejak tahun 2013, justru terjadi penurunan terus menerus produksi kedelai, sampai 90 persen didominasi impor,” ujarnya.

Menurut Dr Atris yang dikenal sebagai ahli kedelai ini mengungkapkan, lonjakan nilai jual kedelai yang sudah mencapai Rp 9.500 lebih dipasaran di atas harga acuan pemerintah sangat mumukul berat bagi pengrajin pengusaha tahu dan tempe di Indonesia saat ini.

Melonjaknya harga yang dipicu dari pengaruh harga pasar dunia dikarenakan menurunnya pasokan di Amerika sebagai negara produsen pengimpor kedelai ke Indonesia, di luar estimasi pemerintah dan pengrajin tahu dan tempe di masyarakat yang tergabung dalam Gapoktindo. Kontan saja kondisi menjadikan pukulan yang berat bagi para pengusaha.

Menurut Antris, kebutuhan kedelai nasional saat ini yang mencapai 3,6 juta ton pertahun  hanya diangka 8% dipenuhi dari hasil produksi kedelai petani secara Nasional.  Selebihnya sudah dikuasi oleh importir kedelai untuk memasok kebutuhan produksi nasional.

Sementara produksi nasional kedelai bahkan terus mengalami penurunan produksi dan petani enggan menanam kedelai karena dari sisi insentif  yang didapat dari menanam kedelai berada dibawah komoditi pangan yang lain seperti padi dan jagung.  (Jon)

BERITA REKOMENDASI