Sutanto Ciptakan Langgam Jawa ‘Ora Nyana’

Editor: Agus Sigit

Ora Nyana

Wus limang windu/ Dumadine prastawa lumaku
Bebarengan ngudi ngelmu/ Sarwa sarwi endah kang dinulu
Tansah kumanthil/ Tetep cumithak sajroning kalbu
Gegojegan saben wektu/ Gawe lam lamen ing siang dalu
Reff:
Ora nyana ora ngira seje pepuntone/ Kabeh cabar merga sliramu ninggalke aku
Katimbalan sowan Gusti kanggo salawase/ Garis pesthi datan bisa diselaki
Keranta-ranta/ Luh tumetes nelesi pipiku
Jroning ati mung dedonga/ Kalebetna jalma kang utama

Drs Sutanto yang merupakan guru Seni Budaya MTsN 3 Bantul tak ada lelah terus berkarya. Setelah merampungkan buku solo ke-8 ‘Gurit 53’, kini mencipta Langgam Jawa berjudul ‘Ora Nyana’ dan dinyanyikan Pengawas SD Disdikpora Bantul Eni Purwanti MPd yang memang menggeluti Seni Tradisi Jawa. Lagu yang diciptakan hanya dalam waktu seminggu tersebut bercerita tentang perjalanan cinta sepasang remaja di saat sekolah, namun kandas di tengah jalan karena yang lelaki pujaannya tersebut telah dipanggil Tuhan untuk selamanya.

“Mencipta langgam memiliki kesulitan lebih tinggi dibanding mencipta lagu anak maupun lagu pop. Karena bentuk lagunya sudah tertentu, mesti memilih kosa kata yang pas sehingga enak didengar,”

Eni Purwanti yang dipercaya Sutanto untuk membawakan lagu ciptaanya memiliki kesan tersendiri saat membawakan lagu itu.

“Langgam ini memiliki nilai kenangan yang mendalam, menceritakan kisah kasih yang suci, meskipun berakhir dengan sedih karena dipisahkan oleh takdir tetapi tetap abadi di hati. Saya membawakannya dengan sepenuh hati, bahkan sampai ikut terbawa dalam kesedihan,” ungkap Eni

Berbeda dengan Eni, Sastrawan Jawa dari Yogyakarta KRT Akhir Lusono SSn MM mengapresiasi terhadap lagu langgam Jawa yang syairnya ditulis oleh seseorang yang super kreatif dan selalu gelisah ini. Menurutnya sebagai awam merasa sangat nyaman mendengarkannya. Sebagaimana nyaman mendengarkan lagu langgam yang lain. Enak untuk penghantar tidur dan menemani ketika bekerja. Jika dikaitkan dengan kalimat yang ditata pencipta sangat paham terhadap alur atau plot. Sehingga terasa mengalir. Ibarat digambarkan ada pembuka dilanjut isi atau wos dan penutup. Ada cerita disitu, tidak hanya menulis kata menjadi kalimat tanpa makna. Asyik dan penggunaan bahasa indah juga sudah terterapkan. Tidak ngloho atau apa adanya. Sebagaimana sebuah karya memang sudah apepaes atau sudah direka sedemikian rupa agar menjadi karya yang ciamik.
Seniman Gurit itu berharap Sutanto terus menulis syair lagu yang bernilai lagi. Sebagai pendengar dan penikmat akan merasa tersanjung jika kedepan ada karya lain yang mengalir bak aliran air sungai dengan memilih penyanyi yang pas dengan karakter lagu.

“Sebagai pendengar atau penikmat saya merasakan mas Tanto perlu banyak menulis syair-syair lagu demikian. Alasan saya adalah biar ada syair lagu yang berkualitas yang beredar di pasaran. Tidak hanya karya-karya yang sifatnya hura-hura pesta pora Ha ha hi hi tanpa adanya pesan moral. Padahal pesan moral itu sangat penting di tengah jaman milenial yang menggila,” ujar Akhir.

Seniman Acapela Mataraman sekaligus Pamong Omah Cangkem Pardiman SSn (Kasihan,Bantul,DIY) mengatakan, ketika seorang guru mengungkapkan ekspresi dengan bahasa budaya maka akan membuat yang mendengar menjadi sengsem. Menurut Pardiman, mendengar langgam terasa asyik dan membuat adem. Ndudut rasa Jawa, ada suasana sedih, tintrim. Melalui budaya Jawa sesungguhnya bisa sebagai sarana mengolah cipta rasa karsa. “Karena guru adalah seseorang yang telah memilih hidupnya untuk selalu membimbing anak didik dan lingkungannya. Langgam Ora Nyana, sebuah cerita tentang kesedihan karena kehilangan, namun hadir dengan nges dan sengsem,” imbuhnya. (Rar)

 

BERITA REKOMENDASI