Syafii Maarif: Sikapi Perbedaan dengan Lapang Dada

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Masyarakat sekarang ini, perang di dunia maya, terbelah di dunia nyata. Realitas ini menjadi jadi ujian dan tantangan tersendiri. Selayaknya, dalam konteks kebhinekaan, kebangsaan dan keagamaan tetaplah menjaga kerukunan. Sebagaimana ungkapan, bijak di dunia maya, rukun di dunia nyata. 

"Ujian sekarang soal toleransi, kerukunan beragama, kebhinekaan. Perbedaan itu perlu disikapi dengan  lapang dada, bukan dengan emosional,"ujar Prof Dr Ahmad Syafii Maarif atau Buya Syafii (Pemimpin Umum Suara Muhammadiyah) dalam Forum Dialog dan Literasi Media Sosial di Hotel Cavinton Yogyakarta, Sabtu (16/03/2019) sore. 

Syafii Maarif mengatakan memasuki tahun politik masyarakat bersikaplah biasa-biasa saja. "Tidak perlu berpuisi, apalagi sampai minta tolong malaikat yang dihubung-hubungkan untuk kepentingan politik segala," ujarnya. Demokrasi apapun, tidak ada sistem pemerintahan yang sempurna.

Syafii Maarif ingin menegaskan, melihat perbedaan, baik pandangan dan sikap politik haruslah dihadapi dengan lapang dada. "Kalau sikap dan pandangan politik sama, kehidupan jadi membosankan," tandasnya. Perbedaan itu justru penting, asal jangan sampai menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Forum Dialog diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) RI dan Suara Muhammadiyah. Forum Dialog juga menghadirkan sejumlah pembicara Prof Dr H Henry Subiakto SH MBA (Staf Ahli Kominfo RI), Prof Dr Widodo Muktiyo MCom (Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama UNS), Irfan Amalee (penulis, Co-Founder Peace Generation Indonesia) dengan pemandu Budi Kusumah. Forum Dialog dan Literasi Media Sosial memilih tema 'Bijak di Dunia Maya, Rukun di Dunia Nyata'. Forum Dialog dengan pengantar Deni Asy'ari MA (Direktur Koorporat Suara Muhammadiyah), Sumiati (Kominfo) dan dibuka Dr Hamim Ilyas (Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah).

Sumiati dari Kominfo dalam sambutan antara mengatakan, fungsi Kominfo menyampaikan keberhasilan pemerintah. "Pertumbuhan internet, belum diikuti pengetahuan yang bijak," ujarnya. Selain itu, Kominfo membangun kesadaran publik dengan instrumen teknologi yang benar. Munculnya persoalan toleransi, radikalisme harus disikapi dengan mawas diri.

Sementara Hamim Ilyas, antara lain mengatakan Muhammadiyah tidak antimodernitas dan tidak antiteknologi sebagaimana dalam buku 'Fikih Informasi' yang disusun Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Soal keberagamaan, kebangsaan dan kebhinekaan satu tarikan nafas. (Jay)

 

BERITA REKOMENDASI