Syeh Siti Jenar Ternyata Menyandang Gelar Sunan Jepara

Editor: Ivan Aditya

TERLEPAS dari ajarannya yang kontroversial tentang konsep Manunggaling Kawula Gusti, namun nama Syeh Siti Jenar tetap memiliki andil dalam penyebaran agama Islam di tanah air khususnya Pulau Jawa. Dalam beberapa hal pandangan Syeh Siti Jenar memang tak sejalan dengan para wali, namun secara konsep syiar Islam apa yang dilakukannya cukup memberi arti bagi para pengikutnya.

Syeh Siti Jenar di tanah Jawa punya banyak nama maupun julukan. Nama Siti Jenar sendiri diambil dari bahasa Jawa yakni Siti berarti Tanah dan Jenar bermakna Kuning.

Baca juga :

Kontroversi Ajaran Syeh Siti Jenar yang Dianggap Sesat
Empat Ilmu Kanuragan Tersohor Tanah Jawa
20 Ajaran Amongraga dalam Primbon Sabda Sasmaya
Mengenal Amongraga, Pria Romantis dalam Serat Centhini

Masyarakat Jepara dahulu juga memberi nama kepada Siti Jenar sebagai Lemah Abang (Tanah Merah). Nama itu diberikan karena Syeh Siti Jenar pernah tinggal di Dusun Lemah Abang, Kecamatan Keling.

Lahir di Persia atau yang kini bernama negara Iran pada kurang lebih tahun 1403, Siti Jenar memiliki nama kecil Abdul Jalil. Syeh Siti Jenar dipercaya masih keturunan Nabi Muhammad SAW dari garis keluarga Siti Fatimah dan Ali bin Abi Thalib.

Karena turut menyebarkan agama Islam di tanah air, Abdul Jalil kemudian mendapat gelar Syeh. Bahkan ada yang mengatakan, Syeh Siti Jenar juga mendapat gelar Sunan sebagai Sunan Jepara.

Soal gelar Sunan yang disandang Siti Jenar juga tak lepas dari kontroversi. Ada yang menyebut karena ajarannya yang dinilai menyimpang maka Sunan Jepara tidak masuk dalam daftar sembilan wali dalam Wali Songo.

Syeh Siti Jenar berguru kepada ayahnya bernama Sayyid Shalih yang dikenal sebagai ahli tafsir Al Quran. Karena ketekunannya Syeh Siti Jenar bahkan sudah hafal Al Quran sejak usia 12 tahun.

Syeh Siti Jenar tiba di Nusantara saat ia berumur 17 tahun mengikuti Sayyid Shalih berdagang sekaligus berdakwah di Malaka. Ayah Siti Jenar lalu diangkat sebagai mufti (ulama yang berwenang menafsirkan kitab dan memberikan fatwa kepada umat) oleh penguasa Kesultanan Malaka saat itu, yakni Sultan Iskandar Syah.

Pada tahun 1425 Sayyid Shalih pindah ke Cirebon bersama Siti Jenar dan dipercaya sebagai penasihat agama kesultanan bersama Maulana Malik Ibrahim atau yang kelak dikenal sebagai Sunan Gresik. Hingga akhir hayatnya Sayyid Shalih menetap di Cirebon dan Siti Jenar ditunjuk sebagai penerusnya.

Di tanah Jawa, Syeh Siti Jenar semakin mendalami agama Islam. Di Demak yang merupakan pusat ajaran Islam di Jawa kala itu, Syeh Siti Jenar juga berguru kepada sejumlah wali termasuk Sunan Ampel dan Sunan Gunung Jati.

Dari sinilah Syeh Siti Jenar mulai mengenal konsep Manunggaling Kawula Gusti. Syekh Siti Jenar kemudian bermukim di Jepara dan mendirikan sebuah pondok pesantren.

Para wali dan ulama di wilayah kekuasaan Demak kala itu sebenarnya hanya diberi kewenangan untuk mengajarkan syahadat dan tauhid saja. Namun Syeh Siti Jenar menentang dan berani memberikan materi tentang ilmu ma’rifat serta hakikat.

Saat konsep Manunggaling Kawula Gusti terdengar oleh para wali, Syeh Siti Jenar segera dipertemukan untuk menjelaskan tentang pemahaman tersebut. Beberapa wali yang hadir kala itu diantaranya Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel, Sunan Kudus.

Bagi Syeh Siti Jenar, inti paling mendasar tentang syahadat dan tauhid adalah manunggal (bersatu). Artinya, seluruh ciptaan Tuhan pasti akan kembali menyatu dengan yang menciptakan sehingg menjadi Manunggaling Kawula Gusti.

“Jika Anda menanyakan di mana rumah Tuhan, jawabnya tidaklah sulit. Allah berada pada zat yang tempatnya tidak jauh, yaitu bersemayam di dalam tubuh (manusia itu sendiri),” kata Syekh Siti Jenar.

Perbedaan penafsiran ayat Al Quran tersebut yang menimbulkan polemik. Namun demikian para pengikut Syeh Siti Jenar menegaskan bahwa Sunan Jepara tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan.

Ajaran Manunggaling Kawula Gusti bukan dianggap sebagai bercampurnya Tuhan dengan makhluk-Nya. Melainkan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah bersatu dengan Tuhannya. (*/Van)

BERITA REKOMENDASI