Takmir Masjid Dituntut Banyak Belajar

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Ketua Badan Nazir Wakaf Uang PWM DIY, Muhammad Shulthoni, menjelaskan, wakaf dapat berupa dua jenis, yaitu uang untuk diinvestasikan dan diproduktifkan, serta barang dikonversi menjadi aset wakaf.

“Takmir masjid dituntut banyak belajar, mulai dari percobaan, pengalaman, sehingga nanti sampai jadi expert dalam hal pengelolaan masjid,” katanya pada Diskusi Lanjutan Revitalisasi Masjid dan Mushola di DIY yang diselenggarakan Lembaga Penelitian, Publikasi, dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bekerjasama dengan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, baru-baru ini.

Masjid-masjid diimbau memberikan fasilitas untuk wakaf. Kotak amal di masjid paling tidak disediakan tiga dan dituliskan kotak zakat, infaq/sedekah, dan wakaf, sehingga dapat lebih memberi informasi jama’ah terkait pengelolaan dana masjid.

Sedang Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan UMY, Yuli Utami, menjelaskan fungsi masjid dan takmir. Kunci dari kesuksesan ekonomi dan kemandirian masjid berada di dua lembaga, yaitu masjid dan takmir. Seandainya dua lembaga ini tidak sinkron atau tidak profesional kemungkinan tidak bisa mencapai optimalisasi.

Money creation (mencetak uang) dapat dijadikan solusi sebagai bisnis sosial. Maksudnya, seperti melahirkan Baitul Mal Masjid dan koperasi jama’ah haji. Dua sumber dana tersebut dapat dijadikan sumber ekonomi masjid, sehingga ada dana jangka pendek dan jangka panjang.

Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan UMY ini mengatakan, di Kota Yogyakarta menarik untuk dilakukan penelitian masjid-masjid yang dijadikan percontohan, seperti Masjid Jogokariyan, Masjid Syuhada, dan Masjid Kauman. Adapun masjid-masjid lainnya yang sudah memiliki arsitektur pembangunan baik dan kemandirian ekonomi dapat juga diteliti.

Ada tiga pendekatan untuk optimalisasi kegiatan kemandirian ekonomi masjid. Pertama, mempromosikan kegiatan ekonomi. Di antaranya dengan memperkenalkan masjid Muhammadiyah sebagai masjid wakaf, sehingga akan menambah rasa percaya pada masyarakat.

Kedua, memperkenalkan koperasi masjid dan baitul mal. Dengan adanya koperasi masjid, dana akan terus berputar, sehingga membuat masyarakat melek akan kondisi keuangan masjid. Caranya misal dengan melibatkan setiap anggota untuk mewakafkan sumbangan wajib dan sumbangan pokok. Kemudian jika telah mencapai jumlah tertentu akan mendapatkan sertifikat.

Ketiga, mengenalkan orientasi kewirausahaan. Sistemnya dapat bekerjasama dengan developer, sehingga masjid memiliki hak dan lama kelamaan masjid memiliki penghasilan serta dapat menyumbangkan penghasilan tersebut pada lembaga-lembaga tertentu. “Orientasi kewirausahaan ini pasti melibatkan produk dan jasa. Jadi, mau tidak mau takmir harus kreatif,” jelasnya. (Feb)

BERITA REKOMENDASI