Tangisan Seseorang, Membuat Londo Kapok Jadi Pecandu Narkoba

LONDO sebut saja demikian. Laki-laki berusia 30-an tahun ini menceritakan kisahnya terjerumus narkoba, menjadi pecandu hingga kemudian bertobat. Ia pernah ditangkap empat haris sebelum menikah. Tapi yang membuatnya bertobat adalah tangisan seseorang dari ujung telepon saat ia berada dalam penjara. 

"Saya mulai pakai narkoba saat SMA, awalnya ganja kemudian shabu-shabu. Semuanya berawal dari pergaulan," kata Londo saat dijumpai KRjogja.com di Rumah Damping Badan Nasional Narkotika Provinsi (BNNP) DIY Rabu (11/10/2017). Londo menghabiskan masa kecil dan remajanya di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, Purbalingga. Ia kemudian melanjutkan pendidikan tingginya di Malang, Jawa Timur dan kini menetap di Yogyakarta. 

Menurut Londo, ia semakin terjerumus ke narkoba karena lingkungan pergaulannya memungkinkan untuk itu. Awalnya diberi gratis, begitu ketagihan ia harus membeli.

Ia kian ketagihan, bahkan saat mulai berkeluarga. "Sekitar 3 atau 4 hari menjelang menikah, saya ketangkap polisi. Padahal undangan sudah disebar," katanya menerawang. Kejadian itu rupanya tak membuat kapok. 

Habis-habisan Karena Narkoba

Ia habis-habisan karena narkoba. Usaha yang dirintisnya bahkan gulung tikar karena kecanduannya. "Awalnya saya punya dua toko parfum, satu rumah makan, satu konter HP dan mobil, semua habis karena narkoba," kata Londo. Untungnya istrinya sabar. 

Keluarga besar sebenarnya mendukung untuk ia lepas dari jerat narkoba. Namun bagi seorang pecandu, bukan hal mudah untuk sepenuhnya lepas. Hingga ada satu titik yang membuatnya benar-benar ingin lepas. 

"Waktu itu anak saya masih kecil, jelang masuk TK. Saya masih di tahanan, dia bilang di telepon, bapak kok sakitnya lama, kapan pulangnya? Dia nangis, saya nangis sejadi-jadinya saat itu," kata Londo. 

Menurut Londo, ia beruntung selain didukung keluarga, serta keinginannya untuk sembuh ada Rumah Damping BNNP DIY yang terletak di Jalan Prawirotaman III MG 3 No 852 Yogyakarta. Di tempat itu ia merasa diterima dan berada di lingkungan yang positif karena bisa bertemu dengan mantan pencandu-pencandu yang ingin mendapatkan masa depan lebih baik.

"Pecandu itu biasanya emosinya naik turun, pernah suatu kali saya hampir saja menampar anak saya. Saya kaget sendiri. Langsung saya menuju ke Rumah Damping BNNP DIY saya mau konseling meski itu bukan jadwal saya," kata Londo. 

Kini pelan-pelan, Londo mulai menata hidupnya lagi. Ia membuka warung kecil-kecilan bersama istrinya. Selain itu ia rutin datang ke Rumah Damping BNNP DIY. Selain untuk sharing dengan pendamping dan kawan-kawan sesama mantan pecandu, ia juga ingin belajar keterampilan kerajinan kulit. 

"Saya pernah mengajak kawan-kawan pecandu yang ingin berhenti. Tapi masih banyak yang takut dengar kata BNN, padahal di Rumah Damping BNNP DIY justru kita diarahkan ke hal-hal yang positif. Pecandu tidak mungkin akan sembuh, tapi bisa dikontrol. Pola pikir kita itu sudah berubah, bukan narkoba lagi tapi bagaimana menjadi produktif," kata Londo. (Agung Purwandono)

BERITA REKOMENDASI