Tantangan Bulutangkis Indonesia di Piala Sudirman

Editor: Agus Sigit

YOGYA, KRJogja.com – Piala Sudirman lambang supremasi bulutangkis beregu campuran, pertama kali diselenggarakan tanggal 24-28 Mei 1989 di Istora Senayan Jakarta. Sejak pelaksanaan Piala Sudirman dari tahun 1989 hingga 2019 hanya tiga negara yang berhasil menjuarai, yakni Indonesia, China dan Korea Selatan. Indonesia menjadi juara dalam perebutan Piala Sudirman tahun 1989 setelah di final mengalahkan Korea Selatan dengan skore 3-2. Setelah itu, preetasi terbaik Indonesia masuk final sebanyak 6 kali, yakni 1991, 1993, 1885, 2001, 2005 dan 2007, semuanya hanya berposisi sebagai runner up.

Korea Selatan tampil sebagai juara berturut-turut pada tahun 1991, 1993, 2003 dan 2017. Sedangkan China bisa dikatakan sebagai penguasa Piala Sudirman selama 22 tahun, berhasil mengoleksi 11 kali juara dengan rincian juara pada 1995, 1997, 1999 dan 2001. Prestasi itu dilanjutkan tahun 2005, 2009, 2011, 2013, 2015, dan 2019. Prestasi Negeri Tirai Bambu mencatat rekor selama berlaga di Piala Sudirman dengan 13 kali masuk final, 11 kali juara dan 2 kali runner up.

Dari gambaran prestasi tersebut, menurut mantan pemain bulutangkis DIY yang kini bergelut sebagai pelatih dan pengamat, Sunarno berpendapat Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) harus jeli menentukan pemain-pemain yang berlaga di Piala Sudirman 2021 yang akan digelar 26 September hingga 3 Oktober 2021 di Vantaa, Finlandia. Selain membawa pemain-pemain terbaik, tentu PP PBSI juga harus memikirkan masalah regenerasi.

Menurut Sunarno Tim Piala Sudirman 2021 yang ditetapkan PP PBSI sudah memenuhi dua kriteria tersebut, yakni Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjata Sukamulya, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto (ganda putra), Greysia Polli/Apriyani Rahayu dan Siti Fadia Silva R/Ribka Sugiarto (ganda putri), Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti dan Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari (ganda putri) serta Anthony Sinisuka Ginting, Jonathan Christie, dan Shesar Horen Rhustavito (tunggal ptra), Gregoria Mariska Tunjung, Putri Kusuma Wardani, dan Ester Nurumi Tri Wardoyo (tunggal putri).

“Pemain-pemain yang telah ditetapkan itu diyakini bisa memenuhi harapan masyarakat Indonesia untuk bisa mengulang sukses yang dicapai pada tahun 1989. Tumpuan utama tentu berada di pundak pasangan Greysia Polli/Apriyani Rahayu, Marcus Fernadi Gideon/Kevin Sanjaya, Praveen Jordan//Melati Daeva Oktavianti, dan Anthony Sinisuka Ginting yang sudah membuktikan kemampuannya di Olimpiade Tokyo 2020,” jelas Sunarno.

Dengan kekuatan penuh itu harapan untuk bisa kembali menggembang Piala Sudirman di tangan pemain-pemain Indonesia bisa terpenuhi, sekaligus menjawab tantangan bulutangkis Indonesia di percaturan dunia. Sebagai salah satu ‘raksasa’ bulutangkis dunia, menurut Sunarno sebenarnya bukan hal yang mustahil putra-putri Indonesia bisa memenuhi harapan masyarakat Indonesia untuk membawa pulang Piala Sudirman. “Tinggal bagaimana pelatih menentukan strategi dalam setiap laga,” ujar Sunarno.

Menurut Sunarno, kualitas pemain-pemain yang masuk skuad Tim Piala Sudirman merupakan pemain kelas dunia yang mampu bersaing dengan pemain dari negara-negara lain yang juga memiliki tradisi prestasi dunia. Bukti mengenai hal itu terlihat dalam perhelatan akbar Olimpiade Tokyo 2020. Dominasi pemain muda Indonesia di Tim Piala Sudirman merupakan cermin keberhasilan regenerasi bulutangkis Indonesia. “Saya yakin dengan skuad pemain terbaik itu, Tim Piala Sudirman Indonesia bisa menjawab tantangan untuk kembali merebut supremasi bulutangkis beregu campuran,” kata Sunarno. (Hrd)

 

BERITA REKOMENDASI