Target 7 Persen Angka Kemiskinan DIY Harga Mati

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Kemiskinan masih menjadi isu seksi di DIY yang ditargetkan bisa menjadi 7 persen pada 2022. Untuk memenuhi target tersebut, stakeholder terkait harus diberikan pemahaman agar program-program terkait pengentasan kemiskinan tepat sasaran.

"Target angka kemiskinan di DIY menjadi 7 persen pada 2022 itu sudah harga mati. Jadi kalau bisa target tersebut harus dipenuhi karena sudah tertuang di RPJD DIY," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Johanes De Britto Priyono MSc di Yogyakarta.

Menurutnya, yang harus dibenahi adalah memberi pemahaman kepada stakeholder terkait, terutama yang mempunyai kewenangan untuk intervensi dan membuat program-program pengentasan kemiskinan. Supaya program-program kemiskinan tepat sasaran, mereka harus menjelaskan 'behind the number-nya'.

"Contohnya program Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR)-nya para pengusaha tidak tepat sasaran karena perbaikan fasilitas berupa bedah rumah, perbaikan jambanisasi, paving jalan desa dan lain-lain itu tidak salah. Tetapi orang miskin itu diukur dari garis kemiskinan yang berdasarkan besarnya pengeluaran," ungkapnya.

Warga di DIY akan tetap miskin apabila pengeluarannya baik makanan maupun nonmakanan itu lebih rendah dari garis kemiskinan. Jadi orang desa yang masuk kriteria miskin, investasi justru tidak menjadi aspek atau komponen penghitung aspek kemiskinan. Termasuk tabungan, harta kekayaan dan sebagainya juga tidak dihitung.

"Orang desa di DIY banyak yang masuk kriteria miskin karena banyak yang pengeluarannya lebih rendah dari garis kemiskinan. Meskipun aslinya mereka punya harta yang berkecukupan, namun dari pengeluaran konsumsinya tidak memenuhi standar maka mereka miskin," tandas JB Priyono.

Ditambahkan, dari hasil berbagai kajian dan teori kemiskinan manapun, orang miskin selalu terjebak dalam lingkaran setan seperti pendidikan rendah, kesehatan dan kesejahteraannya rendah. Sebaliknya di DIY, mayoritas masyarakatnya justru berpendidikan tinggi, kesehatan dan kesejahteraan tidak rendah tetapi angka kemiskinannya masih tinggi.

"Jadi kemiskinan di DIY bukan miskin yang aib karena kriteria penentuan kemiskinannya dari pengeluaran yang rendah. Tercatat angka kemiskinan di DIY mencapai 11,81 persen perSeptember 2018," pungkas JB Priyono. (Ira)

BERITA REKOMENDASI