Tatap Muka Terbatas Ubah Skema Pendidikan

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Forum Guru Muhamadiyah (FGM) mengadakan Focus Group Discussion (FGD) bertema ‘Kesiapan Sekolah Muhammadiyah Menghadapi Tatap Muka Terbatas (TMT) Tahun Ajaran Baru 2021-2022 serta Implementasinya Pendidikan Karakter Era Revolusi Industri’, Rabu (30/06/2021). Zoom Meeting menghadirkan narasumber Prof Suyanto PhD (UNY), Didik Wardaya SE MPd (Kepala Dinas Dikpora DIY), Dr Tasman Hamami MA (Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah/PWM -DIY).

Drs H Purwo Slamet MPd, Ketua Forum Guru Muhammadiyah dalam pengantar mengatakan, pandemi Covid-19 masalah global yang memengaruhi seluruh lini kehidupan. Dampak yang sangat kuat dan mampu mengubah skema pendidikan di Indonesia termasuk di dalamnya sekolah-sekolah Muhammadiyah.

“Adanya banyak pertimbangan dan model pembelajaran yang relatif aman dan efektif untuk dilaksanakan, antara lain model online school, mitra home schooling, hibryd learning,” ujar Purwo Slamet.

Dalam pengamatan, model pembelajaran yang selama ini dirasa sangat efektif yaitu dengan model tatap muka harus rela berubah untuk dapat tetap berlangsung proses pendidikan dengan model online school dan ternyata efektivitas sangat rendah, terbukti dalam tataran implementasi kurang lebih hanya 20% capaian hasil belajar yang dikuasai siswa. Pandemi Covid-19 mengubah bahkan mengganti system dan model yang telah ada dengan model yang baru yang memaksa kita harus berubah cara berpikir dan cara pandang serta menyikapi proses pembelajaran dalam dunia pendidikan.

Satu tahun sudah model online school yang diterapkan oleh pemerintah tidak efektif karena berbagai faktor antara lain, persebaran sinyal komunikasi, kemempuan orangtua untuk mendampingi belajar dengan gadget, kemampuan ekonomi orangtua di masa pandemi yang terganggu. Hal inilah yang menjadi penyebab inefektivitas program online school.

Penguatan Pendidikan Karakter adalah sebuah keniscayaan dalam wujud nyata sebuah hasil proses belajar menjadi manusia pembelajar. Fungsi dari pendidikan itu sendiri secara filosofi adalah memanusiakan manusia muda tugas pendidikan seharusnya mampu memberikan bekal hidup bagi seorang manusia menghadapi masa depannya.

Selaras dengan pemikiran di atas, optimalisasi potensi kemanusiaan menjadi kewajiban para pendidik untuk mengantarkan manusia muda menjadi pribadi pembelajar yang memiliki kemampuan untuk memberikan warna bagi kehidupan. Namun juga menjadi kebalikannya bila pendidikan gagal memahami arti penting dari tugas pendidikan maka yang terjadi adalah generasi yang akan diwarnai oleh kehidupan karena kegagalannya pula menjadi sosok manusia pembelajar. Dengan demikian menciptakan lingkungan belajar yang mampu mengantarkan subyek didik menjadi Sang Pembelajar haruslah diciptakan.

Manajemen menjadi panglima pembentukan lingkungan belajar yang mendukung bertumbuh kembangnya seluruh potensi manusia sehingga menjadi manusia pembelajar yang melekat di dalamnya sebuah karakter yang kuat yang memiliki kecepatan adapatasi menghadapi jaman, memiliki fleksibilitas dealam menghadapi perubahan situasi dan bahkan memiliki kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan situasi dan dinamika zaman secara cepat. Menjadi pertanyaan besar dalam implementasi pendidikan karakter yang telah dicanangkan oleh pemerintah yang tertuang dalam Perpres dalam dunia pendidikan.

“Kami berharap tidak hanya slogan dan formalitas program akan, tetapi menjadi ruh gerakan pendidikan itu sendiri. Sejauh mana implementasi pendidikan karakter dan seperti apa model implementasi pendidikan karakter di sekolah merupakan pekerjaan turunan dari sebuah kebijakan yang seharusnya di amankan. Kebijakan pemerintah terletak dalam kelas dan juga guru yang memiliki bekal ketrampilan yang cukup untuk menerjemahkan penguatan pendidikan karakter tersebut,” tandasnya.

Era revolusi industri 4.0 merupakan tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan sebagai media utama yang menyiapkan generasi terbaik untuk masuk menjadi bagian dari kondisi tersebut sehingga karakter yang kuat dan tangguh sangat diperlukan untuk masuk menjadi bagian generasi milenial. Di sekolah sekolah Muhammadiyah perlu memiliki alat ukur atau penjaminan mutu untuk mengetahui hasil pendidikan yang akan menyuplai subyek didiknya memasuki era revolusi industry 4.0 tersebut.

“Maka menjadi keniscayaan bagi sekolah Muhammadiyah untuk menjadikan pendidikan karakter panglima,” ujarnya.

Ditegaskan Purwo Slamet, tugas pendidikan adalah membentuk membentuk karakter, memanusiakan manusia muda. Memaksimalkan seluruh potensi kemanusian merupakan tugas dari pendidikan. Menciptakan lingkungan belajar yang mampu memaksimalkan potensi manusia sehingga menjadi manusia yang paripurna merupakan tugas manajerial. Tingkat efektivitas Implementasi pendidikan karakter di sekolah.

“Era revolusi indusrtri 4.0 adalah sebuah keniscayaan dalam menyiapkan kader Muhammadiyah yang memiliki karakter unggul Qurani dengan menciptakan model implementasi pendidikan karakter,” pungkasnya. (Jay)

BERITA REKOMENDASI