Telur dan Daging Dorong Penurunan Inflasi

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Inflasi DIY pada Februari 2018 tercatat deflasi 0,05 persen (mtm) atau sebesar 3,08 persen (yoy), menurun tajam dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat inflasi 0,55% (mtm). Berkurangnya tekanan inflasi di seluruh komponen mempengaruhi penurunan inflasi pada periode laporan, dengan penurunan terbesar terjadi pada komponen volatile food, diikuti dengan administered prices dan inti.

Hal tersebut sesuai Berita Resmi Statistik (BRS) yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) DIY. Pencapaian tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan rata-rata historis Februari 5 tahun terakhir sebesar 0,17 persen (mtm) maupun pencapaian nasional pada Februari 2018 sebesar 0,17 persen (mtm).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Budi Hanoto mengatakan, berdasarkan disagregasinya, komponen volatile food tercatat inflasi sebesar 0,54 persen (mtm), dengan andil sebesar 0,09 persen (mtm) yang menurun tajam dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,03 persen (mtm). Koreksi harga telur ayam ras dan daging ayam ras mendorong penurunan tekanan inflasi volatile food pada periode laporan.

”Penurunan harga dua komoditas tersebut dipengaruhi kembali normalnya produksi dan lancarnya distribusi,” ujar Budi Hanoto di kantornya, Jumat (02/03/2018).

Budi mengungkapkan hal ini juga terkonfirmasi dari rata-rata harga telur ayam ras pada Pusat Informasi Harga Strategis (PIHPS) Nasional (hargapangan.id) yang tercatat sebesar Rp 20.900/kg pada Februari 2018, menurun dibandingkan rata-rata harga Januari 2018 sebesar Rp 22.000/kg. Sementara, rata-rata harga daging ayam ras tercatat sebesar Rp 32.700/- kg pada Februari 2018, menurun dibandingkan Januari 2018 sebesar Rp 34.300/kg.

”Di sisi lain, komoditas bawang putih, beras dan bawang merah menahan laju deflasi lebih dalam. Peningkatan harga bawang putih seiring dengan keterbatasan pasokan akibat belum terealisasinya impor,” jelasnya.

Wakil Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY ini menambahkan, kenaikan harga bawang merah disebabkan berkurangnya stok di tengah masih berlangsungnya musim tanam. Sementara, masih terjadinya peningkatan harga beras dipengaruhi masih terbatasnya panenan di sentra penghasil walaupun diperkirakan akan relatif menurun saat panen raya pada Maret 2018.

”Komponen administered prices tercatat deflasi 1,01 persen (mtm) dengan andil sebesar -0,20 persen (mtm), menurun dibandingkan 0,42 persen (mtm) pada bulan sebelumnya. Menurunnya tarif angkutan udara di tengah berakhirnya musim liburan awal tahun mendorong penurunan inflasi pada periode laporan,” tandas Budi.

Sejalan dengan penurunan inflasi volatile food dan administered prices, Budi menyampaikan penurunan tekanan inflasi juga terjadi pada inflasi inti. Kondisi ini tercermin dari tingkat inflasi sebesar 0,09 persen (mtm), menurun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,22 persen (mtm). (Ira)

BERITA REKOMENDASI