Tempat Hiburan Rakyat yang Kini Tinggal Riwayat

Editor: Ivan Aditya

MENGINGAT romantisme Yogyakarta memang tidak pernah ada habisnya, setiap tempat di kota ini selalu meninggalkan kenangan manis yang ingin selalu dikenang. Walau Yogyakarta zaman dahulu berbeda dengan masa kini, namun kenangan-kenangan itu tak akan mudah dilupakan.

Di Yogyakarta, dahulu ada beberapa tempat yang banyak meninggalkan kenangan manis bagi warga. Namun seiring perkembangan serta tuntutan zaman, tempat-tempat yang dahulu dijadikan ruang publik tersebut telah hilang dan kini berganti fungsi.

Sejenak menengok cerita kenangan lalu, berikut tempat hiburan rakyat yang kini tinggal riwayat.

Seni Sono

Di Kota Yogyakarta dahulu ada satu lokasi tempat berkumpulnya para seniman untuk berkreasi. Tempat ini bernama Seni Sono yang terletak dikawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, tepatnya di seberang Monumen Serangan Oemoem 1 Maret atau persis di sebalah selatan Istana Gedung Agung Yogyakarta.

Seni Sono jika disamakan dengan saat ini fungsinya hampir seperti Taman Budaya Yogyakarta (TBY) di Jalan Sriwedani, Gondomanan. Hampir setiap hari tempat ini selalu diisi dengan kegiatan berkesenian, terlebih lagi pada dekade 80 hingga 90 ruang berekspresi bagi para seniman cukup kurang.

Di Seni Sono juga terdapat panggung yang langsung menghadap ke jalan. Masyarakat bisa menyaksikan segala pertunjukan mulai dari teater, drama, paduan suara maupun seni panggung lainnya tanpa harus keluar uang alias gratis.

Namun pada sekitar tahun 1995 gedung ini dipugar untuk perluasan bangunan Istana Gedung Agung Yogyakarta. Saat ini sisa-sisa kejayaan Seni Sono sudah tak nampak lagi, namun demikian hal itu tak menyurutkan semangat seniman-seniman Yogyakarta untuk tetap berkreasi.

Taman Kota

Lokasi yang satu ini terletak di Jalan Panembahan Senopati, Gondomanan, Yogyakarta. Dahulu di lahan sekitar 1.000 meter persegi ini berdiri suatu tempat yang dinamakan Taman Kota. Tempat ini berdiri memanjang di kawasan depan SMPN 2 Yogyakarta ke barat hingga di depan Gereja ST Franciscus Xaverius atau yang sering disebut Gereja Kidul Loji.

Selain menjadi ruang publik, Taman Kota juga difungsikan sebagai tempat terbuka hijau dimana warga bisa berkumpul dan merasakan suasana perkotaan sambil menikmati rindangnya pepohonan. Di dalam komplek Taman Kota juga terdapat fasilitas bermain bagi anak serta kursi-kursi kayu maupun hamparan rumput untuk bersantai pengunjung.

Lama kelamaan Taman Kota sepi pengunjunga dan menjadi tak terawat. Bukannya sebagai ruang publik lagi, namun Taman Kota malah dijadikan sebagai lokasi mangkalnya pada waria di malam hingga dini hari. Sekitar tahun 1998 Taman Kota akhirnya diratakan dengan tanah dan kini menjadi tempat parkir kendaraan wisata yang bernama Taman Parkir Senopati.

Purawisata

Tempat yang satu ini bernama Purawisata. Berdiri di Jalan Brigjen Katamso Yogyakarta, Purawisata juga sering disebut dengan nama Taman Hiburan Rakyat (THR). Sebelum jadi Purawisata, tempat ini dulunya merupakan komplek pemakaman yang sering disebut Kerkof atau lidah orang Jawa menyebutnya dengan nama ‘Kerkop’.

Purawisata lebih dikenal masyarakat Yogyakarta sebagai tempat digelarnya konser dangdut. Beberapa nama pedangdut seperti Vivin Vania, Oky Ardila maupun Yayuk Parabola sempat melambung namanya setelah sering manggung di Purawisata.

Selain panggung dangdut, di THR juga terdapat tempat permainan bagi anak-anak seperti kolam renang, permainan ketangkasan juga tak ketingalan warung makanan di dalamnya. Namun pada tahun 2013 Purawisata resmi ditutup, rencananya di lokasi ini akan dibangun hotel delapan lantai. (Van)

BERITA REKOMENDASI