Tempat Ini Jadi Markas Jenderal Sudirman Susun Setrategi Gerilya

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Bangunan bekas Markas Korem (Makorem) 072 Pamungkas Kodam IV Diponegoro yang kini diabadikan menjadi gedung Museum Dharma Wiratama mempunyai riwayat yang cukup panjang. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda gedung utama yang luasnya 1.564 meter persegi ini merupakan tempat tinggal pejabat adminitratur perkebunan Belanda di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Kepala Badan Pelaksana Museum Monumen Pusat (Balakmusmonpus) Dinas Sejarah AD, Kolonel (Arm) Hery Purwanto SIP mengatakan dengan jatuhnya pemerintahan Hindia Belanda kepada Jepang pada masa Perang Pasifik tahun 1942, maka gedung tersebut dipakai sebagai kediaman Residen Jepang (Syudokan) di Daerah Yogyakarta. Setelah Proklamasi Kemerdekaan gedung tersebut telah mencatat beberapa pristiwa penting bagi negeri ini.

“Di gedung ini pernah digunakan sebagai Markas Tertinggi TKR (MBT). Digedung ini pula Letjen Urip Sumoharjo untuk pertama kalinya menyusun Markas Besar TKR, angkatan perang Republik Indonesia yang kemudian hari tumbuh menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI),” disela sarapan gratis bersama para penarik becak dengan tajuk ‘Ojo Lali Sarapan’ di halaman Museum Dharma Wiratama, Jumat (16/08/2019).

Bangunan tua ini juga pernah menjadi menjadi markas tertinggi TKR (sekarang setingkat Mabes TNI), dimana Jenderal Sudirman berkantor. Di markas ini pula pimpinan tertinggi angkatan perang Indonesia itu menyusun strategi yang dikenal dengan perang gerilya tersebut.

Pasca kemerdekaan tempat ini juga menyisakan cerita pilu yang akan terus dikenang oleh bangsa. Dua pimpinan saat itu yakni Komandan Korem (Danrem) 072 Pamungkas Kolonel Katamso dan Kepala Staf Korem (Kasrem) 072 Pamungkas Letkol Sugiyono diculik untuk akhirnya dibunuh di kawasan Kentungan Sleman.

“Gedung ini menjadi saksi kebiadaban G.30 S/PKI di Yogyakarta pada tahun 1965. Danrem beserta Kasrem diculik oleh oknum dari Yon L lalu dibawa di asramanya Kentungan. Keduanya kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi dan mendapat kenaikan pangkat satu tingkat menjadi Bgirjen (Katamso) serta Kolonel (Sugiyono),” unkapnya.

Kini Museum Dharma Wiratama benda-benda bersejarah peninggalan masa perjuangan. Beberapa koleksi berupa diorama, foto, serta mural yang menceritakan perjuangan para pahlawan dan sejarah terbentuknya TNI.

"Sejak dulu bangunan ini tidak boleh diubah karena merupakan cagar budaya nasional. Musemnya sudah berbasis IT multimedia. Untuk menyesuaikan generasi milineal yang sukanya gedget itu agar tidak di tinggalkan," imbuhnya. (Ive)

BERITA REKOMENDASI