Terdakwa OTT KPK Gabriella Minta Dibebaskan, Rindu Keluarga

YOGYA, KRJOGJA.com – Sudah empat bulan ditahan karena terjerat kasus korupsi  Direktur Utama PT Manira Arta Mandiri, Gabriella Yuan Ana (39) merasakan kerinduan mendalam pada keluarga terutama ketiga buah hatinya. Terdakwa Gabriella yang terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK dalam kasus proyek Saluran Air Hujan / SAH Pemkot Yogya menyatakan ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, bisnisnya mengalami kerugiaan miliaran rupiah, namanya juga jatuh gara-gara terjerat tipu daya birokrat, oknum Jaksa yang menjanjikan kemenangan proyek.

"Saya mengikuti lelang online sesuai prosedur. Saya ingin segera bebas, tetapi kalaupun saya harus dipenjara karena dianggap bersalah, saya mohon ditempatkan di Rutan yang dekat dengan keluarga," ucap Gabriella saat membacakan pledoi (pembelaan), Kamis (9/1/2020) dalam sidang ke-9 di Pengadilan Tipikor Yogya, Jalan Prof Soepomo 10 Janturan Warungboto Umbulharjo Yogya.

Jaksa  KPK Wawan Yunarwanto dan Bayu Satriyo menjerat terdakwa   dengan pasal 5 ayat (1) huruf a uu 31/1999 jo pasal 2 uu 20/2001 jo 64 KUHP berupa pidana penjara 2 tahun dan denda Rp 150 juta  (atau kurungan 3 bulan). Terdakwa diduga memberikan suap kepada dua jaksa fungsional Kejaksaan Negeri (Kejari) Yogya Eka Safitra dan Jaksa Fungsional Kejari Surakarta Satriawan Sulaksono. Sebesar Rp 221.740.000 dalam proyek SAH untuk memenangkan lelang proyek rehabilitasi SAH dengan pagu sebesar Rp 10.887.750.000.

"Kenyataannya dari saksi-saksi di persidangan, keduanya (Eka dan Satria) tidak berbuat apa-apa untuk memenangkan lelang, saya mengikuti prosedur," keluh Gabriella di depan Majelis Hakim Tipikor dengan Ketua Suryo Hendratmoko didampingi dua hakim anggota ad hoc Tipikor, Samsul Hadi dan Rina Listyowati.

Sebelumnya tim kuasa hukum Gabriella terdiri dari 5 Advokat dari Widhi Wicaksono & Partner membacakan pledoi setebal 150 halaman. "Penerapan pasal 5 UU Tipikor tidak relevan, pendapat kami kalaupun dinyatakan bersalah jeratannya pasal 13 karena klien kami terkecoh oleh saksi Eka dan Satria," tegas Widhi. 

Sidang yang dimulai pukul 10.05 dan berakhir 12.04.WIB ini juga dipenuhi karyawan, staf dari terdakwa yang sebagian juga ikut terharu saat Gabriella membacakan pledoi dengan terisak. Proses sidang Gabriella berlangsung sejak Oktober 2019. Sementara proses sidang dua jaksa fungsional Kejari Yogya Eka Safitra dan Jaksa Fungsional Kejari Surakarta Satriawan Sulaksono baru menjalani persidangan perdana Rabu (8/1/2020). 

Gerakan Anti Korupsi Yogyakarta (GAKY) turut memantau dan dihadiri langsung mantan Penasihat KPK RI Budi Santoso. "Kami memberi support moril kepada Jaksa KPK agar optimal dalam menuntaskan kasus korupsi perkara OTT "pecah telur penindakan" KPK RI di Yogyakarta," tegas Budi.

Menurut Budi dalam setahun ada 7000 kasus korupsi dari penjuru Indonesia yang dilaporkan ke KPK. "Namun memang tidak semua bisa ditindaklanjuti. Untuk sidang kali ini di Yogya yang sudah sampai pledoi kita harapkan Jaksa bisa meyakinkan dan memenuhi harapan masyarakat untuk penindakan korupsi dengan putusan hakim yang seadilnya," tegas Budi. 

Sedang Jaksa KPK Bayu Satriyo usai persidangan menyatakan siap menjawab pledoi tersebut dan tetap pada tuntutannya. Penerapan pasal juga sudah tepat dengan saksi dan bukti-bukti. Sidang ditunda dua pekan ke depan. (R-4)

BERITA REKOMENDASI