Ternyata Ini Makna Jamasan Pusaka Milik Cucu HB VIII Gunakan Banyak Sesaji

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Sebuah meja sepanjang 2,5 meter terpasang di Pendopo Benawan Rotowijayan Yogyakarta dan tampak dipenuhi berbagai macam makanan tradisional. Ternyata, itu merupakan bagian dari sesaji prosesi jasan pusaka yang menjadi tradisi sejak masa lampau.

Tidak kurang 28 jenis makanan tradisional tertata di meja seperti nasi tumpeng robyong, nasi tumpeng urubing damar, nasi tumpeng kebuli, nasi tumpeng rasul, tumpeng gundul, ingkung ayam jago, buah-buahan dan aneka warna jenang (bubur) kelahiran. Pemilik rumah adalah cucu Sri Sultan HB VIII, sekaligus cucu buyut Sri Sultan HB VII, RM Hertriasning.

Ia tengah menggelar tradisi ritual yang digelar setiap bulan Suro (penanggalan Jawa). “Ini pertama kali, kami menggelar kegiatan jamasan ageng. Biasanya kami gelar hanya internal keluarga saja. Kebetulan saudara-saudara mengusulkan, kalau ada pusaka dari Ki Demang Wonopawiro Gunungkidul, sekalian saja untuk membuka babar nawa Wonosantun (Wonosari),” ungkap Gusti Aning, sapaan akrab RM Hertriasning, Selasa (31/08/2021).

Tak heran memang, sesaji dibuat secara komplit, bahkan tak banyak ditemui di masyarakat secara umum. Selama ini, yang biasa ditemukan di masyarakat dalam menggelar tradisi ritual jamasan tosan aji, antara lain sebatas jajanan pasar, kembang setaman, pisang sanggan, unjukan dan tumpeng satu jenis.

“Soal makna banyak artinya, ya. Tapi, yang ingin kami sampaikan, adalah makna yang semuanya mengarah pada kehidupan, ada makna kekuatan, keselamatan, rezeki, permohonan untuk penyatuan hati, pikiran, jiwa dan raga. Juga merawat sedulur papat limo pancer, dalam spiritual Jawa, contohnya dengan adanya jenang weton (kelahiran). Ini simbol-simbol kehidupan spiritualisme,” lanjut Gusti Aning.

Sesaji lengkap ini menurut Gusti Aning hanya ada dalam ritual yang digelar di dalam Kraton. Namun, ternyata yang ditampilkan tak seluruhnya sama karena ada beberapa makanan yang beraifat khusus hanya untuk pusaka yang dimiliki Kraton.

“Selama ini yang dilakukan masyarakat memang belum lengkap. Mungkin, karena untuk efisien waktu tapi bisa jadi karena efisien biaya, sebab untuk menyediakan sesaji lengkap ini memerlukan biaya besar,” lanjut dia.

Gusti Aning juga menjelaskan bahwa makna jamasan yang ia lakukan setiap tahun sekali ini untuk membersihkan pusaka dari segala kotoran seperti besi karat. Namun, secara lebih mendalam dimaknai pula sebagai bentuk penghargaan para leluhur juga empu pembuat pusaka.

“Makna di dalamnya untuk menghargai para leluhur dan empu pembuat pusaka. Kalau makna manusianya, membersihkan diri secara lahir batin. Sekaligus, sebagai bagian khasanah kekayaan tradisi budaya tosan aji,” ungkapnya lagi.

Dalam jamasan pusaka yang dilaksanakan akhir pekan lalu, ada 22 pusaka milik Gusti Aning yang dibersihkan. Selain itu ada pula 12 pusaka dari Ki Demang Wonopawiro. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI