Terungkap! Pasukan Pengawal Khusus HB II “Langenkusuma” Adalah Putri Tionghoa

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Wang Xiang Jun (NB Susilo) mantan atlet renang Kota Yogyakarta yang juga Ketua Paguyuban Pedagang Malioboro (PPM) merilis buku bertajuk “Menyingkap Jejak Keadilan Tionghoa”. Buku yang dibuat selama delapan bulan dengan berbagai riset ini ingin memperlihatkan jejak sejarah Tionghoa Yogyakarta yang belum banyak diketahui masyarakat.

Buku setebal 200 halaman ini di salah satu bagiannya menceritakan bagaimana situasi semasa HB II dahulu di mana selir kesayangannya Mas Ayu Sumarsonowati diyakini penulis merupakan putri Tionghoa hingga dihadiahi Klenteng Gondomanan. Putri Tionghoa inilah yang lantas membentuk pasukan Langenkusuma dan diceritakan setia menemani HB II hingga wafat dan menjadi salah satu bukti asimilasi antara Kraton dengan warga Tionghoa.

“Tionghoa di Yogya sangat erat kaitannya dengan berdirinya Kraton Yogyakarta. Ada hal yang tak diketahui penulis lain, di mana ada penelitian pelindung atau selir kesayangan HB II adalah puteri asli Tiongkok dilihat dari adanya Klenteng Gondomanan dan prajurit putri Langenkusuma. Pengawal melekat HB II yakni perempuan-perempuan Tionghoa yang melindungi beliau. Ini saya dapat dari Prasasti Geger Sapehi yang banyak penggalannya hilang dibawa Inggris, saya coba ceritakan dalam buku ini,” ungkapnya pada wartawan Selasa (17/9/2019).

NB Susilo saat menunjukkan buku karyanya (Harminanto)

Susilo juga menceritakan kondisi pembentukan pasukan Langenkusuma yang ternyata melewati dinamika penolakan dari suami, anak atau ayah para prajurit tersebut. “Dibuktikan dari tulisan Peter Carey bahwa HB II begitu tertarik dengan wanita Tionghoa di mana beliau sering mengirim rombongan penyergapan ke daerah Pantai Utara Jawa untuk menangkap perempuan Tionghoa yang cantik-cantik,” ungkapnya mengimbuhkan.

Secara khusus, dalam buku tersebut Susilo juga menyibak anggapan diskriminatif pada masyarakat Tionghoa di Yogyakarta yang disebut dilakukan secara terstruktur, sistematis dan masif. “Saya juga kupas tuntas bahwa Tionghoa di Yogyakarta ini terbagi menjadi tiga, jadi tidak pantas jika kemudian digebyah uyah penghianat sehingga tidak bisa punya hak milik tanah. Seluruhya coba saya jabarkan dalam buku ini, sebagai bagian dari sejarah,” tandas dia.

Penulis yang pernah menyandang pustakawan terbaik DIY tahun 1995 ini melakukan proses penulisan selama 8 bulan. Ia berharap buku karyanya bisa menjadi salah satu rujukan untuk mengetahui sejarah Tionghoa di Yogyakarta dari perspektif yang lain.

“Referensi bukan dari internet tapi dari buku, disertasi, tesis, skripsi dan wawancara. Saya bertemu ahli silsilah dan keturunan HB VII Sri Hermani WK. Selama 8 bulan melakukan penelitian Harapannya, setelah buku ini resmi terbit, sejarah bisa dimaknai sesuai fakta yang sebenarnya jangan dipelintir secara terstruktur, sistematis dan masif,” pungkas dia. (Fxh)

 

 

BERITA REKOMENDASI