Terus Semangat dan Inovatif, Kunci Utama Bangkit

Editor: Ivan Aditya

BANYAK kisah pilu yang dialami oleh para pelaku usaha di tengah pandemi Covid-19. Namun dibalik kesulitan yang dihadapi juga selalu menyimpan hikmah. Sehingga kunci utama untuk kembali bangkit ialah terus menjaga semangat serta berinovasi dengan menyesuaikan kondisi yang dihadapi.

Salah satunya dialami Rifzika Livia, pengusaha catering yang juga Ketua Perkumpulan Perempuan Wirausaha Indonesia (Perwira) DPC Kota Yogya. Usahanya yang banyak berkaitan dengan wedding organizer sempat terpuruk akibat banyak agenda atau event yang dibatalkan seiring terjadinya pandemi Covid-19. Selain harus merumahkan karyawan, dirinya bahkan sampai menjual aset guna menjaga keberlangsungan usaha.

“Saya beruntung ada yang mau membeli aset berupa tanah dan rumah tersebut. Sehingga itu bisa dijadikan pegangan untuk beberapa langkah ke depan,” katanya di sela curah gagasan dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar SKH Kedaulatan Rakyat di 101 Hotel, Jumat (30/10/2020).

Dirinya yang biasa menangani ribuan konsumen dalam sehari mau tidak mau harus kembali dari nol. Dimulai dari membuka pesanan dari rumah ke rumah maupun perkantoran tanpa membatasi jumlah minimal order. Pelaku UKM yang menjadi rekanannya pun diajak melakukan diversifikasi usaha sesuai permintaan pasar serta saling membeli kebutuhan di sesama rekan.

Perlahan usahanya di bidang kuliner itu pun kembali menggeliat. Bahkan dirinya mampu membuka divisi baru dan memanggil satu persatu karyawan yang sempat dirumahkan hingga menampung lapangan pekerjaan baru. “Kuncinya harus sehat, kuat, tegar, terus semangat dan jangan lelah berdoa. Itu yang selalu saya sampaikan ke teman-teman agar kondisi ini bisa dilalui dengan hasil yang baik,” akunya.

Senada disampaikan Wiwit Kurniawan, kreator ‘Coffee on The Bus’. Gagasan itu muncul karena selama pandemi kalangan tour and travel ikut terimbas pandemi Covid-19. Armada bus yang biasanya digunakan untuk melayani wisatawan pun disulap layaknya kafe berjalan. Dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, konsumen bisa menikmati sajian kuliner dengan berkeliling Kota Yogya dan sekitarnya.

“Kami hanya ingin menghidupkan kembali pariwisata di Yogya. Semua orang suka kopi sehingga kami coba bikin konsep yang berbeda. Menunya pun tidak sekadar kopi melainkan cokelat dan aneka makanan,” akunya yang mengaku sangat terbantu dengan layanan Online Single Submission (OSS) untuk mengakses izin berusaha.

Sementara Marhanus Hastono atau akrab disapa Marhen dari Paguyuban Pasthy Movement Point, berharap kondisi pandemi ini bisa secepatnya berakhir. Paguyubannya tersebut masih terbilang baru dan beranggotakan para pelaku UKM kuliner. Apalagi Pasthy Movement Point dibentuk sebagai daya ungkit menghidupkan sektor selatan Kota Yogya yang baru beranjak namun turut terdampak pandemi.

Sedangkan pembina UKM Cahyadi, menguraikan sektor UKM yang terdampak sangat bervariasi. Banyak pelaku yang berada pada level merah dan kuning, namun ada juga yang masih bisa menembus pasar luar. Akan tetapi kondisi resistensi dinilainya sudah cukup dan saatnya untuk pulih.

“Kondisi pulih itu minimal kembali seperti sebelum pandemi. Tapi kondisi sekarang ini sulit seperti dulu, tapi bagaimana kembali pada sesuatu yang baru. Bukan back to normal tapi back to new normal dengan transformasi digital,” urainya.

Peluang transformasi digital itu pun diuraikan peneliti UKM Hempri Suyatna. Dosen Fisipol UGM ini menilai, pandemi Covid-19 turut berdampak positif pada sektor pemanfaatan media daring. Tercatat ada 59 persen pelaku UKM yang mengandalkan media daring untuk transaksi penjualannya. Dengan begitu, pendampingan harus terus diberikan, terutama bagi kalangan pedagang di pasar tradisional. (Dhi)

BERITA REKOMENDASI