Tetap Eksis Dengan Oplah Stabil, Pengurus SPS Jatim Kunjungi KR

YOGYA,KRJOGJA.com – Serikat Penerbit Surat Kabar atau Serikat Perusahaan Pers (SPS) Jawa Timur mengunjungi manajemen SKH Kedaulatan Rakyat (KR) guna bersilaturahmi sekaligus studi banding KR sebagai Jatim ini untuk bersilaturahmi sekaligus studi banding eksistensi KR Jogja sebagai media cetak tertua di Indonesia yang masih eksis hingga sekarang dengan oplah yang cukup stabil.

Kedatangan pengurus SPS Jatim yang dipimpin Ketua Umum Sukoto dan jajaran pengurus Sudirman, Mudjianto  Wijayanto dan Kanti Wiyoto diterima Komisaris Utama Prof Poppy Inajati, Direktur UmumYuriya Nugroho Samawi SE.MM.MSc , Direktur Pemasaran Fajar Kusumawardhani SE, Direktur Keuangan Imam Satriadi SH, Direktur Produksi Baskoro Jati Prabowo dan Pemimpin Redaksi Drs Octo Lampito Mpd. 

"Memang banyak media lokal yang lahir sesudah kami. Tapi yang masih bertahan hingga saat ini ya KR. Ini karena sesuai motto kami bahwa kami yang lebih mengerti Yogya, kami yang lebih tahu Yogja," kata Pemred KR Octo Lampito.

Octo mengatakan bahwa orang Yogja memang istimewa. Dengan budaya Jawa yang penuh tata krama dan unggah ungguh, warganyasangat menjunjung tinggi adat ketimuran. Misalnya untuk berita kritik, KR tidak bisa menurunkan berita yang nyelekit apalagi sampai menyakiti orang lain. Cukup berita kritik yang membuat pihak lain semburat merah di pipi menahan malu, itu sudah cukup. 

"Orang Yogya jika sampai tersinggung atau tidak berkenan dengan sesuatu, mungkin mereka akan diam. Namun di belakang hari, mereka akan memilih meninggalkan hal tersebut. Tentu ini kerugian bagi media yang mengutamakan pembaca sebagai pelanggan dan pihak pemasang iklan," ungkap Octo.

Pertemuan SPS Jatim dengan jajaran komisaris, direksi dan pemred Kedaulatan Rakyat (KR). (WIJAYANTO/RADAR SURABAYA)

"Istilahnya di Jogja ini, ngono yo ngono, neng ojo ngono," tambah Ibu Dhani, panggilan karib Fajar Kusumawardhani SH yang merupakan cucu dari pendiri KR, almarhum Wonohito.

Mengutamakan pendekatan budaya dan menjunjung tinggi adat ketimuran, maka KR bisa eksis hingga sekarang dan menjaga keterikatan yang kuat dengan pembaca setianya selama bertahun-tahun. Apalagi, KR didirikan oleh para pejuang kemerdekaan RI di zamannya. 

Dua pendiri KR yakni Wonohito dan HM Samawi tak hanya berjuang dengan penanya. Keduanya juga ikut mengangkat senjata untuk berperang mengusir penjajah. Karena itu, cerita Octo yang menulis buku tentang sejarah KR ini, pernah koran ini pamitan kepada pembacanya selama seminggu. "Waktu itu di korannya, pak Won (Wonohito, Red) menulis, "Maaf Kami Tidak Bisa Terbit Selama Seminggu karena Kami Harus Berjuang Mengangkat Senjata," sebut Octo.

Bahkan saat kedua orang ini harus mendekam di tahanan Belanda karena berita berita perjuangan yang ditulisnya, keduanya masih menulis di potongan-potongan kertas yang ada di penjara untuk diterbitkan di medianya.

Keterkaitan emosi dan budaya yang kuat dengan pembacanya ini yang membuat koran KR bertahan hingga sekarang. Bahkan, koran ini sudah melahirkan banyak media lain seperti Koran Merapi, koran Minggu Pagi, majalah Ultra dan media online KRJOGJA.com yang juga digemari pembaca.

Dalam silaturahmi yang berlangsung sekitar 1,5 jam itu, kedua pihak juga berdiskusi dan bertukar pikiran tentang perkembangan media cetak di Jogja dan Jatim, serta kiat-kiat untuk bertahan bagi media cetak di zaman industri 4.0 yang disebut-sebut sebagai era disruptif. (*)

BERITA REKOMENDASI