Tim Pemberdayaan Masyarakat UMY Berikan Pendampingan Difabel Meramu Wedang Uwuh

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Permintaan pasar terhadap produk ekonomi kreatif olahan makanan dan minuman tradisional terus meningkat. Salah satu produk minuman lokal berbahan rempah yang banyak dicari konsumen adalah wedang uwuh. ‎Potensi ekonomi wedang uwuh ini tidak disia-siakan oleh para penyandang disabilitas di Kapanewon Gamping.

Bermitra dengan Tim Pemberdayaan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang dikoordinir oleh Dr Imamudin Yuliadi, Dosen Ilmu Ekonomi, para penyandang disabilitas, termasuk orangtua dari penyandang disabilitas yang tergabung dalam komunitas Gading melakukan kegiatan pelatihan produksi wedang uwuh dan pemenuhan legalitas usaha.

Menurut ketua tim Imamudin Yuliadi didampingi anggota Ahmad Ma’ruf‎, kegiatan meramu wedang uwuh merupakan lanjutan dari pendampingan tahun 2020 yang berupa pendampingan budidaya tanaman empon-empon. Dimana padabulan April 2021, mulai dilakukan pengenalan dan praktik meramu wedang uwuh.

Selain itu, tim pemberdayaan masyarakat juga memfasilitasi pengurusan legalitas usaha berupa Ijin Usaha Mikro Kecil (IUMK) dari para penyandang disabilitas yang memiliki kegiatan usaha, termasuk usaha produksi dan penjualan wedang uwuh ini.

“Lewat kegiatan ini diharapkan dapat membekali para penyandang disabilitas untuk mendapatkan penghasilan tambahan dari usaha produksi wedang uwuh. Minimal dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga sendiri karena saat assessment awal mayoritas penyandang disabilitas menyukai minuman hangat ini,”kata Imamudin Senin (03/05/2021).

Dalam kesempatan yang sama, ketua komunitas difabel Kapanewon Gamping, Yuliana menyampaikan harapan agar ada pelatihan lanjutan berupa pemasaran. Mengingat pelatihan tersebut sangat bermanfaat karena memberikan keterampilan meramu wedang uwuh. Selain itu pihaknya juga berterima kasih karena didampingi mendapatkan legalitas usaha.

“Anggota Gading banyak yang wirausaha skala mikro seperti usaha angkringan, produksi peyek, produksi snack, dan lain sebagainya. Diharapkan legalitas ini menjadi alat untuk memperluas jejaring usaha, termasuk akses pendampingan dari pemda dan kampus,”kata Yuliana.‎ (Ria)

BERITA REKOMENDASI