Tinggi, Intensitas Hujan di DIY

YOGYA, KRJOGJA.com – Masyarakat DIY khususnya yang tinggal di wilayah perbukitan dan bantaran sungai perlu mewaspadai kemungkinan terjadinya banjir maupun tanah longsor. Sebab secara umum kondisi iklim pada Januari 2020 ini intensitas curah hujan bulanan di wilayah DIY masuk kategori cukup tinggi (berkisar 300- 500 milimeter/bulan). Bahkan berdasarkan data Stasiun Klimatologi Mlati Sleman, pada Januari hingga Februari 2020 wilayah DIY umumnya memasuki puncak musim hujan.

"Pada puncak musim penghujan, intensitas dan frekuensi hujan di DIY cukup tinggi. Bahkan kalau dilihat dari hasil analisa Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam sepekan ke depan menunjukkan masih adanya potensi hujan lebat di wilayah DIY. Salah satu indikasinya adanya peningkatan aktivitas Monsun Asia yang dapat menyebabkan penambahan massa udara basah
di wilayah DIY,” kata Kepala Kelompok Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Yogyakarta Etik Setyaningrum MSI di Yogyakarta, Minggu (5/1).

BACA JUGA : 

Waspadai Bencana di Kawasan Rawan Longsor

Kejutkan Warga, Desa Tunjungrejo di Pati Diterjang Banjir

 

Etik mengungkapkan, selain adanya peningkatan aktivitas Monsun Asia, di wilayah DIY juga terpantau adanya pola tekanan rendah/low pressure di Belahan Bumi Selatan (sekitar Australia). Adanya tekanan udara rendah itu dapat membentuk pola konvergensi (pertemuan massa udara) dan belokan angin terutama di bagian Selatan Indonesia. Kondisi ini dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia terutama di bagian Selatan Ekuator termasuk Yogyakarta.

Hal lain yang diprediksi ikut andil meningkatkan pertumbuhan awan hujan adalah aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) fase basah yang diprediksi akan aktif dalam sepekan ke depan. ”Selain peningkatan intensitas hujan yang bisa memicu terjadinya
banjir dan tanah longsor, masyarakat DIY juga perlu mewaspadai adanya gelombang tinggi di Perairan Selatan Jawa. Karena meski beberapa hari ke depan gelombang tinggi diprediksi berkisar 1,5-2 meter (kategori sedang), gelombang tinggi sewaktu-waktu
mengalami kenaikan, terutama bila di Perairan Selatan Jawa terjadi peningkatan angin,” terang Etik.

Etik menambahkan, melihat kondisi iklim dengan curah hujan masuk kategori tinggi, BMKG mengimbau agar masyarakat tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang,
pohon tumbang dan jalan licin. Kepada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi, diimbau agar selalu memantau perkembangan cuaca terkini. Dengan begitu, antisipasi bisa maksimal dan ketiga terjadi peningkatan gelombang tahu langkah yang perlu dilakukan.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Drs R Mulyono R Prabowo MSc di Jakarta mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan berhatihati terhadap dampak yang ditimbulkan dari cuaca ekstrem dalam sepekan ke depan. Kepada mereka yang beraktivitas di pesisir sekitar
area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi juga diimbau selalu waspada. Sebab potensi cuaca ekstrem masih akan terjadi di beberapa wilayah Indonesia. “Hasil analisis kondisi dinamika atmosfer terkini menunjukkan masih adanya potensi hujan lebat di beberapa wilayah Indonesia untuk sepekan ke depan,” jelasnya.

Menurut Mulyono, ada beberapa faktor yang mempengaruhi potensi hujan lebat tersebut. Di antaranya, berkurangnya pola tekanan rendah di Belahan Bumi Utara (BBU) dan meningkatnya pola tekanan rendah di wilayah Belahan Bumi Selatan (BBS), mengindikasikan terjadinya peningkatan aktivitas Monsun Asia. Kondisi tersebut dapat menyebabkan penambahan massa udara basah di wilayah Indonesia, Kemudian, meningkatnya pola tekanan rendah di BBS (sekitar Australia) dapat membentuk pola konvergensi (pertemuan massa udara) dan belokan angin menjadi signifikan. Kondisi ini meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan ekuator.

Sementara itu berdasarkan model prediksi, aktifitas Madden Julian Oscillation (MJO) fase basah diprediksi mulai aktif di sekitar wilayah Indonesia selama periode sepekan ke depan. “Kondisi ini tentunya dapat meningkatkan potensi pembentukan awan hujan cukup signifikan di wilayah Indonesia,” ujar Mulyono.

Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG memprakirakan dalam periode sepekan ke depan potensi cuaca ekstrem dan curah hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang berpotensi terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Pada periode 5-8 Januari 2020 potensi cuaca ekstrem akan melanda Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua. Wilayah tersebut juga diprakirakan akan terjadi hujan dengan intensitas lebat pada periode 9-12 Januari 2020. Selain itu, potensi ketinggian gelombang laut di wilayah Indonesia hingga mencapai lebih dari 2.5 meter dapat terjadi di beberapa wilayah perairan.

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengimbau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di semua daerah untuk segera konsolidasi dan meningkatkan kesiapsiagaan guna merespons potensi gangguan alam cukup ekstrem dalam beberapa hari ke depan. Bamsoet, sapaan akrab Bambang Soesatyo, juga mengingatkan semua elemen masyarakat
agar meningkatkan kewaspadaan. Sebab ada perkiraan terjadinya curah hujan tinggi dalam beberapa hari ke depan. Kewaspadaan masyarakat menjadi penting untuk memperkecil risiko.

Prakiraan cuaca dari BMKG yang cukup rinci hendaknya ditanggapi semua pihak dengan ragam kegiatan antisipatif yang diperlukan,
utamanya oleh Pemerintah Daerah dan BPBD, serta semua elemen masyarakat. Untuk memperkecil risiko, Ketua MPR juga mendorong
semua organisasi relawan proaktif menghadapi berbagai kemungkinan. Ia juga terus mencermati peristiwa gangguan alam yang terjadi di sejumlah daerah akhirakhir ini.

Ada yang cukup ekstrem seperti halnya di Jabodetabek, serta awan panas guguran Gunung Merapi yang mulai terjadi Sabtu (4/1) malam.
Peristiwa di Gunung Merapi itu menyebabkan hujan abu tipis di sekitar Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Untuk mendapatkan gambaran tentang perubahan cuaca dalam beberapa hari ke depan, petugas BPBD disarankan untuk aktif menyimak prakiraan cuaca dari BMKG. Selain itu, diharapkan Pemda memberi perhatian khusus kepada warga yang terpaksa tinggal sementara di pengungsian akibat banjir. Selain makanan, warga yang mengungsi butuh air bersih, selimut hingga obat-obatan. (Ria/Imd/Edi)

BERITA REKOMENDASI