Tingkatkan Kualitas Warga Binaan Setelah Bebas Perlu Dukungan Masyarakat

YOGYA, KRJOGJA.com – Label mantan narapidana saat ini masih sulit diterima oleh masyarakat. Stigma ini diharapkan agar bisa dihapus agar warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) bisa hidup mandiri di tengah masyarakat. Untuk mencapai hal itu, Lapas memberikan bekal keterampilan bagi warga binaan sesuai minat mereka. 

Kepala Divisi Pemasyarakatan (Kadivpas) Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) DIY Gusti Ayu Putu Suwardani menerangkan, pembinaan berupa keterampilan bagi warga binaan ini sesuai dengan Resolusi Pemasyarakatan 2020 yang dicanangkan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. Sejumlah program yang dilakukan tiap Lapas tidak hanya mengejar target tapi juga kualitas bagi warga binaan. 

Sehingga selama mendekam di dalam penjara, warga binaan benar-benar memperoleh keterampilan dan keahlian tidak hanya sekedar selembar sertifikat saja. "Ada tiga unsur sistem pemasyarakatan bisa dikatakan sukses. Yakni warga binaan, petugas dan masyarakat. Sejauh ini petugas dan warga binaan sudah sangat baik, karena kami berusaha meningkatkan derajat warga binaan," jelas Gusti Ayu di sela-sela acara launching program pelatihan kemandirian warga binaan pemasyarakatan Lapas Perempuan kelas II B Yogyakarta, Senin (20/1/2020).

Gusti Ayu menegaskan, masyarakat juga harus terlibat dalam menerima warga binaan yang sudah bebas. Hal ini masih menjadi PR bagi pihak Lapas karena masyarakat masih punya stigma kurang baik terhadap warga binaan yang sudah bebas. Oleh karena itu, Lembaga Pendidikan dan Keterampilan (LPK) atau mitra-mitra Lapas bisa menjadi agen pemasyarakatan. Sehingga mereka tidak hanya memberikan keterampilan kepada warga binaan tapi juga mensosialisasikan kepada masyarakat. 
"Warga binaan yang sudah bebas perlu diterima karena memang mereka warga masyarakat  sempat melakukan tindak pidana tapi tetap harus diterima masyarakat sebagai manusia seutuhnya," tegas Gusti Ayu.

Kalapas Perempuan Kelas IIB Yogyakarta Retno Yunihardiningsih menambahkan, pembinaan terhadap warga binaan memerlukan keikutsertaan masyarakat dalam membentuk kepribadian maupun kemandirian mereka. Sesuau target kinerja yang sudah dideklarasikan Ditjen Pemasyarakatan, pihak Lapas melibatkab lembaga tersertifikasi. 

"Setelah menjalani masa tahanan, mereka bisa mendapat pekerjaan dari ilmu dan sertifikat yang diperoleh saat berada dalam Lapas. Rincican pelatihan kemandirian dimulai 15 Januari hingga Desember 2020 mendatang," beber Retno.

Pelatihan yang diberikan meliputi, bidang salon berupa pelatihan creambath, potong rambut dan facial. Pelatihan menjahit, handycraft. Serta pelatihan membuat batik tulis, shibori, jumputan dan echoprint. Menurut Retno, jumlah peserta pelatihan sebanyak 60 warga binaan untuk satu jenis pelatihan.(Aha)

BERITA REKOMENDASI