Tol Yogya-Solo Lewati 14 Desa, Yogya-Bawen 8 Desa

YOGYA, KRJOGJA.com – Prasosialisasi berkaitan dengan trase jalan tol Yogya-Solo dan Yogya-Bawen, mulai dilakukan oleh Pemda DIY. Trase tersebut terbagi menjadi dua yakni Yogya-Bawen dengan panjang 10,9 kilometer dan Yogya-Solo dengan panjang 22,36 kilometer. Adapun untuk kontruksi jalan tol di DIY lebih banyak menggunakan model elevated (melayang). Kebijakan itu diambil selain meminimalkan penggunaan lahan permukiman juga mempertimbangkan kearifan lokal.

"Untuk trase Yogya-Solo, melewati 6 Kecamatan dan 14 desa. Adapun perinciannya, Kalasan ada empat desa. Prambanan satu desa, Depok tiga desa, Ngaglik satu desa, Mlati empat desa dan Gamping ada satu desa. Sedangkan untuk trase Yogya-Bawen melewati 5 kecamatan dan 8 desa. Dengan perincian Kecamatan Tempel ada satu desa, Seyegan tiga desa, Godean satu desa, Mlati dua desa dan Gamping ada satu desa. Prasosialisasi dilakukan untuk memberikan kejelasan tentang area terdampak jalan tol,” kata Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang DIY, Krido Suprayitno seusai acara prasosialisasi program strategis nasional rencana pembangunan jalan tol Solo-Yogya-Bawen di Kompleks Kepatihan, Kamis (17/10).

Krido mengungkapkan, untuk trase Yogya-Solo perkiraan jumlah bidang sebanyak 2.906 bidang dengan luas lahan terdampak pembangunan tol seluas 1.744,068 meter persegi. Sedangkan untuk Yogya-Bawen jumlah bidangnya mencapai 722 bidang dengan lahan yang terdampak 467,026 meter persegi. Sesuai dengan kesepakatan bersama dan memudahkan koordinasi untuk pengadaan tanah akan diketuai Kanwil BPN DIY. Adapun untuk model pengadaan tanahnya dengan sistem pentahapan. Dengan model pentahapan dipilih, karena masyarakat memiliki kewajiban untuk mensukseskan. "Saya belum bisa menyampaikan rute tol untuk mengantisipasi kenaikan harga tanah karena spekulan. Tapi yang pasti kedua trase ini berujung di Ring Road Utara. Sedangkan untuk rute terusan ke Kulonprogo akan dibicarakan usai pembebasan lahan tahap pertama berjalan," terangnya.

Sementara itu saat ditanya soal kawasan segitiga emas. Krido menyatakan, dengan adanya pembangunan tol DIY diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dan wilayah. Terutama di tiga lokasi adanya tiga jalur emas. Hal itu dikarenakan di DIY memiliki Kawasan Perkotaan Yogyakarta dan Kawasan Aglomerasi Yogyakarta. Tapi soal lokasinya mana saja dirinya belum
bisa berkomentar banyak karena untuk mengantisipasi resiko-resiko pengadaan tanah.

Sementara itu, Kepala Subdit Pelaksanaan Jalan Bebas Hambatan Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Hardy P Siahaan menyampaikan, Kementerian PUPR sudah menyampaikan usulan dokumen kelengkapan pengajuan Izin Penetapan Lokasi (IPL) atau Penetapan Lokasi (Penlok) kepada Gubernur DIY terkait rencana pembangunan jalan tol SoloYogyakarta-Bawen. Pihaknya telah menyerahkan finalisasi trase-trase dan dokumen perencanaan pengadaan tanah rencana pembangunan
jalan tol Solo-Yogya-Bawen tersebut kepada masing-masing Gubernur yang dilewati jalan tol tersebut. "Kami sudah mengajukan usulan pengajuan IPL tersebut kepada Gubernur, kami siap support dan memang masih ada yang perlu dilengkapi serta sempurnakan, itu proses. Sejauh ini belum ada perubahan trase jadi masih 'on the track'," tegas Hardy.

Hardy menjelaskan, pihaknya sudah menyampaikan dokumen perencanaan pengadaan tanah tersebut kepada Gubernur baik Gubernur DIY dan Gubernur Jawa Tengah yang selanjutnya akan dilakukan konsultasi publik dan sebagainya hingga kesesuaian tata ruang maupun administrasi di internal Pemda DIY. Setelah tahapan tersebut dilalui, baru bisa diterbitkan IPL Gubernur dilanjutkan dengan proses pengadaan tanah. Disamping itu, proses lelang juga baru akan dilakukan tahun ini, karena pembangunan fisik konstruksinya baik yang dibangun melayang (elevated) dan at grade baru bisa dilakukan setelah pengadaan tanah dengan total seluas 212,02 Hektare (Ha) dengan perincian ruas Bawen-Yogyakarta seluas 45 Ha dan ruas Yogyakarta-Solo seluas 165,02 Ha. (Ria/Ira)

BERITA REKOMENDASI