Topan Savannah Sudah Menjauh, Warga Jogja Harus Tetap Waspada!

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di sejumlah daerah di DIY akibat adanya peningkatan hujan yang cukup ekstrem karena Topan Savannah. Meski saat ini Topan Savannah sudah bergerak menjauh, masyarakat diminta tetap mewaspadai kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, angin kencang).

"Banjir dan tanah longsor di DIY lebih banyak terjadi di bagian Selatan Bantul dan sebagian daerah di Gunungkidul. Hal itu terjadi selain karena lokasinya di daerah perbukitan, juga dipicu adanya peningkatan intensitas hujan yang cukup ekstrem dalam durasi cukup lama," kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Prof Dr Dwikorita Karnawati.

Dwikorita mengungkapkan, bencana alam banjir bandang dan tanah longsor lebih mudah terjadi (menyasar) daerah yang memiliki intensitas kegempaan cukup tinggi. Kondisi itu terjadi karena bebatuan yang ada di dalam tanah sudah mengalami fase guncangan dalam tingkat sering, sehingga membuat bebatuan tersebut mudah bergeser jika terkena air hujan.

"Berdasarkan pengalaman, daerah yang sering terjadi gempa batuannya lebih sering digoyang oleh gempa sehingga menjadi rapuh. Akibatnya jika terkena guyuran hujan berintensitas tinggi, bisa memicu terjadinya banjir bandang," terang mantan Rektor UGM tersebut.

Guru Besar Fakultas Geologi UGM itu menjelaskan, peningkatan intensitas hujan diprediksi masih akan terjadi dalam beberapa hari ke depan. Karena itu, selain mewaspadai bencana hidrometeorologi, masyarakat juga perlu terus memantau peringatan dini dari BMKG. Karena selama ini meski BMKG sudah secara rutin menyampaikan peringatan dini, tapi masih ada masyarakat yang belum memperhatikannya. Untuk itu, Dwikorita berjanji akan terus mencari solusi termudah dan sederhana untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat.

"Tujuan peringatan dini itu bukan mencegah terjadinya cuaca ekstrem, tetapi mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dan meminimalisasi dampak  korban jiwa," jelas Dwikorita. (*)

BERITA REKOMENDASI