TPS di Nitikan Jadi Percontohan Pengolahan Sampah

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogya akan menjadikan TPS 3R di Nitikan sebagi pilot project atau percontohan untuk pengolahan sampah dari masyarakat. Akan tetapi tahap awal baru akan menggandeng satu RW di kelurahan setempat yakni Sorosutan sembari memberikan edukasi untuk merubah mindset masyarakat terhadap sampah.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH Kota Yogya Haryoko, menyebut pengolahan sampah diawali dari proses pemilahan sampah organik dan sampah anorganik. Selanjutnya sampah yang sudah terpilah kemudian diolah kembali sampai menyisakan residu. “Residu itu lah yang kemudian disetorkan ke TPA Piyungan. Harapannya seperti itu,” jelasnya.

TPS 3R di Nitikan yang memiliki kapasitas 10 ton perhari, saat ini juga masih tercampur antara sampah organik dengan anorganik. Tahap awal program percontohan, sampah yang masuk ke sana harus sudah terpilah.

Sejak dari rumah, sampah yang bernilai ekonomi sudah terambil dan dimanfaatkan ke bank sampah setempat. Sehingga, sampah yang tidak termanfaatkan baru dikirimkan ke TPS 3R di Nitikan untuk diolah kembali sampai benar-benar menyisakan residu.

Haryoko menambahkan, pada tahap awal pihaknya akan menjadikan satu RW di Sorosutan sebagai pilot project. Fokus kegiatannya ialah gerakan memilah sampah organik dan anorganik di bank sampah setempat.

Jika kegiatan itu sudah menjadi kebiasaan maka ditindaklanjuti dengan penjadwalan pengambilan sampah khusus organik dan anorganik. “Untuk sekarang ini kami belum sampai pada penjadwalan pengambilan sampah karena memang dibutuhkan perubahan mindset dulu dari masyarakat,” imbuhnya.

Kegiatan di TPS 3R tersebut sejauh ini juga masih mengolah sampah dari taman kota berupa sisa-sisa daun. Sampah dikelola menjadi kompos dengan produksi sekitar 10 kubik perhari, sementara sampah organik dari masyarakat belum dimanfaatkan di TPS 3R Nitikan.

Sembari menggulirkan program percontohan pengolahan sampah, kelak semua sampah organik bisa dikelola di TPS tersebut. Sampah organik berupa sisa makanan dan sayuran akan diolah menggunakan magot.

Kemudian sampah organik berupa dedaunan dari warga akan dicampurkan sampah daun dari taman kota untuk diolah menjadi kompos dengan kombinasi bioaktivator. Sedangkan bagi sampah anorganik yang bernilai ekonomi akan ditampung di bank sampah induk milih DLH. (Dhi)

BERITA REKOMENDASI