TPST Piyungan Kembali Dibuka Hari Ini

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Pemda DIY memastikan dua dermaga baru di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul, sudah bisa beroperasional untuk menurunkan sampah, Jumat (29/03/2019) hari ini. Pembukaan dua dermaga TPST Piyungan tersebut untuk mengatasi kondisi di lapangan, dimana penurunan sampah akan dilakukan berdasarkan wilayah sesuai kesepakatan antara Pemkot Yogyakarta, Pemkab Sleman dan Pemkab Bantul.

Sekda DIY Gatot Saptadi mengatakan, ketiga wilayah yang berkepentingan di TPST Piyungan sudah menyepakati siapa yang terlebih dahulu menggunakan supaya sampah-sampah segera ditangani dan tidak menumpuk serta mengantisipasi antrean pengangkutan sampah di Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul dan Sleman. Setidaknya butuh waktu dua hingga tiga hari untuk menyelesaikan pengangkutan sampahsampah yang tertunda pembuangannya selama beberapa hari ini.

“Kami pastikan dua dermaga di TPST Piyungan sudah dipasangi box culvert yang mampu menampung setidaknya dua truk pengangkut sampah. Jadi hari ini dermaga sudah bisa digunakan. Berarti TPST Piyungan sudah dibuka dengan skema pembuangan bergilir sesuai kesepakatan agar tidak terjadi antrean panjang dan sampah-sampah tidak semakin menumpuk hingga mengganggu kenyamanan dan kesehatan masyarakat,” ujar Gatot Saptadi.

Gatot menegaskan, adanya kesepakatan tersebut sekaligus supaya jalan di area TPST Piyungan tidak semakin rusak dan memprihatinkan. Satu dermaga berukuran 12 meter tersebut dapat digunakan dua truk sekaligus sehingga dapat mempercepat proses penurunan sampah di TPST Piyungan.

Proses pengurukan area sampah di TPST Piyungan dipercepat agar truk bisa bongkar muat. Sesuai kesepakatan, Jumat (29/03/2019) pagi ini warga mengizinkan truk sampah boleh masuk untuk bongkar muat sampah.

Selain persoalan buruknya akses menuju titik pembongkaran, persoalan tidak kalah serius dan butuh perhatian yakni terkait pembuangan limbah lindi atau cairan dari timbunan sampah. Selama ini lindi tersebut sudah diolah sebelum dibuang ke Sungai Opak.

“Tadi sudah ada koordinasi dengan perwakilan masing-masing kabupaten/kota, Jumat truk dari Sleman dan Bantul yang membuang sampah. Kemudian Sabtu-Minggu khusus Kota Yogyakarta,” ujar Staf TPST Piyungan Sumarwan.

Khusus Kota Yogya memang diberi alokasi waktu lebih banyak dengan pertimbangan volume sampahnya paling banyak. Diakui proses pengurukan material di lokasi pembuangan memang belum sepenuhnya selesai. “Dikatakan selesai ya selasai, dikatakan belum ya belum, tetapi kami melihat bahwa harus segera dibuka karena sampah semakin menumpuk,” ujarnya.

Sementara itu Pemkot Yogya mulai menyiapkan kawasan percontohan untuk pengelolaan sampah, guna menekan volume residu sampah yang harus dibawa ke TPST Piyungan. Wakil Walikota Yogya Heroe Poerwadi mengungkapkan, saat ini terdapat 450 bank sampah yang tersebar di berbagai wilayah. Namun tetap belum bisa mengantisipasi ketika TPST Piyungan berhenti beroperasi.

“Upaya yang bisa dilakukan dengan mengelola sampah agar yang disetorkan ke TPST Piyungan bisa benarbenar ditekan,” tandasnya.

Tahun ini, kawasan percontohan pengelolaan sampah ditetapkan di Kecamatan Tegalrejo. Kepala Bappeda DIY Budi Wibowo mengaku, skema penanganan TPST Piyungan sudah ditentukan dan akan segera digulirkan. Penanganan jangka pendek berupa perbaikan infrastruktur dan penyehatan lingkungan di kawasan sekitar TPST Piyungan.

“Jangka pendek ini sudah masuk lelang dan akan berjalan April, namun sudah keduluan aksi warga sekitar,” katanya.

Sedangkan penanganan jangka panjang dengan mengolah sampah di TPST Piyungan menjadi energi. Proses perencanaannya juga sudah diselesaikan dan sesuai rencana, Bappenas akan melakukan proses lelang Mei mendatang. Penutupan TPST Piyungan tidak hanya berimbas pada masyarakat, namun juga pengelola Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Kenanga Merdikorejo, Tempel, Sleman.

“Biasanya sepekan sekali diambil DLH, karena kita sudah langganan. Tapi ini sudah seminggu lebih belum diambil,” kata Ketua TPS 3R Kenanga Haryati Sumiyardi.

Adanya keterlambatan pengambilan sampah diakui Kabid Kebersihan dan Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Sleman Junaedi. Tak hanya dari DLH, para penyedia jasa yang biasa mengambil sampah dari rumah ke rumah juga ikut terdampak. (Ira/Roy/Dhi/Awh/Has)

BERITA REKOMENDASI