Transaksi Valas di DIY Naik 30 Persen

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Transaksi Pedagang Valuta Asing (PVA) di DIY mengalami kenaikan rata-rata sekitar 30 hingga 40 persen selama nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tembus di angka Rp 15.000. Kenaikan nilai transkasi valuta asing (valas) di DIY tersebut dialami 17 Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB) yang resmi alias sudah mengantongi izin.

Ketua Asosiasi Pedagang Valuta Asing (APVA) DIY Edi Sulistyono mengatakan masyarakat banyak yang menukarkan dolar AS-nya dengan rupiah sejak kursnya tembus Rp 15.000. Sehingga terjadi kenaikan transaksi PVA di DIY setidaknya 30 hingga 40 persen sejak dolar AS menguat di level Rp 15.000 belum lama ini.

" Masyarakat bayak yang menjual atau menukarkan dolar AS saat ini disejumlah money changer. Tren penukaran dolar AS tersebut belum terjadi ketika dollar belum menembus angka Rp 15.000 meskipun tetap berada di level yang tinggi," ujar Edi usai mengikuti Sosialisasi Ketentuan Pembawaan Uang Kertas Asing Bagi KUPVA BB di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Selasa (9/10).

Edi menjelaskan kenaikan nilai tukar dolar AS di atas Rp 15.000 tersebut memang membawa dampak luar biasa bagi PVA di DIY sampai saat ini. Banyak masyarakat yang melakukan penukaran karena melihat angka psikologis yang awalnya di level Rp 15.000 namun saat ini sudah mencapai angka Rp 15.200. "Dampaknya penguatan dolar AS memang luar bisa. Banyak terjadi penukaran yang masih didominasi dolar AS tentunya," katanya.

Pemilik Risansa Money Changer ini mengungkapkan hanya saja, kenaikan jumlah transaksi tersebut sebenarnya sama saja dampaknya terhadap para PVA di DIY. Sebab, pengusaha money changer sebenarnya hanya pedagang sehingga berapapun harga dari dolar AS tetap saja mereka beli. PVA hanyalah melayani atau menjual jasa penukaran valuta asing.

"Masyarakat banyak yang menjual dolar AS mereka karena nilainya cukup tinggi. Kenaikan nilai tukar tersebut yang paling banyak adalah dolar AS secara global karena mata uang yang lain justru mengalamipenurunan nilai tukarnya, sama seperti yang dialami rupiah," jelas Edi.

Kenaikan dolar AS hingga di atas Rp 15.000 tersebut sebenanrya sangat memberatkan bagi golongan masyarakat yang sudah cenderung beraktivitas di luar negeri seperti mereka yang bersekolah dan berobat ke luar negeri. Sebab mereka terpaksa harus menebus dolar AS yang saat ini cenderung mengalami kenaikan dan cukup mahal.

Deputi Kepala Perwakilan BI DIY Sri Fitriani yang disapa Fifin ini mengungkapkan untuk membatasi peredaran uang asing di tanah air, BI memang mulai melakukan pembatasan. BI akan memberikan sanksi sebesar 10 persen bagi masyarakat yang membawa uang kertas asing ke dalam dan ke luar daerah pabean Indonesia di atas Rp 1 miliar sejak 3 September 2018. "Kebijakan ini memang untuk membatasi peredaran mata uang asing di tanah air. Pengaturan tersebut guna meminimalisir adanya aktivitas pembawaan uang kertas asing yang dapat berpotensu mengganggu stabilitas nilai rupiah dan bersinergi dengan upaya pemerintah mencegah tindak pidana pencucian uang," tandasnya. (Ira)

 

BERITA REKOMENDASI