TRC Sebut 106 Warga Isoman Meninggal di Rumah

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Komandan TRC BPBD DIY, Pristiawan Buntoro mengungkap data yang dimiliki terkait jumlah warga DIY yang meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah periode 1 Juni hingga 5 Juli 2021. Tercatat, 108 orang meninggal dunia karena perburukan kondisi akibat terserang virus Corona Covid-19 yang memicu memburuknya kondisi tubuh.

Kondisi yang terjadi saat ini, sudah diprediksi sejak pertengahan Juni lalu, bahwa kasus akan meledak. Fasilitas kesehatan sebagai hulu penanganan kini dirasa tak lagi mampu mengatasi peningkatan pasien positif yang akhirnya membuat warga tak lagi punya pilihan mendapat perawatan baik.

“Sejak awal bulan Juni sudah kita prediksi ledakan yang terjadi saat ini mulai persoalan di hulu faskes penuh orang sakit antre berakibat stuck di puskesmas sebagai pintu pertama penentu mana dirujuk dan isoman. Saat rumah sakit stuck tak lagi mampu menerima rujukan maka puskesmas hanya punya satu pilihan yakni isoman. Ini menjadi lonjakan atau bahkan ledakan,” ungkap Prist, Jumat (09/07/2021).

Berdasarkan data Dinas Kesehatan DIY, sampai saat ini jumlah kasus positif yang meninggal dunia mencapai 1.892 sejak Maret 2020 atau awal pandemi. Persentase fatality case di DIY kini menjadi 2,61 persen sementara recovery rate tercatat 74,73 persen.

TRC BPBD DIY mengaku sudah membicarakan situasi yang akan dihadapi sejak Juni lalu di mana fakta di lapangan faskes tak lagi mampu mengatasi lonjakan pasien akan berdampak pada kematian baik di rumah sakit maupun isoman.

“Kami sudah bicara sejak 15 Juni lalu bicara lonjakan isoman meninggal di rumah dengan situasi fasilitas kesehatan yang stuck dan diluar jangkauan. Sleman banyak sekali namun Gunungkidul dan Kulonprogo lebih tinggi dengan perbandingan jumlah warganya. Sejak 1 Juni sampai 5 Juli sudah 106 yang meninggal isoman,” tegasnya.

Saat ini, TRC berharap bagian hulu dalam hal ini rumah sakit dan faskes segera diperbaiki dengan cara yang dipikirkan dengan seksama oleh pengambil kebijakan. Jika tidak, situasi warga yang meninggal saat isoman akan semakin tinggi yang tentu tak diharapkan terjadi.

“Ini menjadi semakin parah kalau hulu tak diselesaikan. Orang sakit antre masuk di rumah sakit, berikutnya berubah jadi peti mati antre dimakamkan, kemudian mayat antre dipulasarakan. Ini yang terjadi dan sudah terbukti. Ini situasi yang kita hadapi,” pungkas dia. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI