Triska Aulia Jati, Penari Sendratari Ramayana Sejak Kelas 3 SD

Editor: Ivan Aditya

PEMANDANGAN yang terhidang di depan mata kadang membuat seseorang bisa terpengaruh. Terinspirasi. Sering melihat pentas tari di televisi, Triska Aulia Jati terbuai. Saat itu berusia 3 tahun.

Kedua orangtuanya: Juritno-Winarsih, yang melihat minat putri kesayangannya tersebut lantas membelikan VCD tari. Tak sia-sia. Triska akhirnya belajar tari dari VCD. Hingga kelas 3 SD belajar otodidak.

Merasa punya bakat dan menikmati kesenian tersebut, Triska masuk sanggar tari. Mendalami serius. Tak lama di sanggar, Triska langsung ikut pentas Sendratari Ramayana Candi Prambanan, hingga sekarang.

“Orangtua sebenarnya tidak ada yang bisa menari. Setelah ikut sanggar, bisa membenarkan gerakan-gerakan yang salah atau tidak sempurna,” terang Triska yang lahir pada 27 Januari 2002 ini.

Keuletan menggeluti tari menumpuk banyak pengalaman. Muncul di acara televisi. Pernah pula menjadi duta seni pelajar 2018. Pentas Gelar Seni Budaya Yogyakarta di Taman Mini Jakarta, wakil Sleman. Ditunjuk jadi koreografer FLSSN Sleman.

Warga Pondok Wonolelo 1 Widodomartani Ngemplak Sleman ini menciptakan lima tari kreasi. Yaitu Sigrak Sumilir, Lawe Lantih, Kipas Ayu, Saharsa Sahitya, dan Jingkrak.

Menari tidak sekadar menggerakkan tubuh, juga hati dan pikiran agar selaras. Bagi Triska menari ajang belajar kesabaran dan keikhlasan berproses.

“Dengan menari saya bisa melepaskan beban yang sedang dirasakan. Juga bisa melatih kreativitas membuat karya. Pun mendatangkan hasil yang bisa buat bantu orangtua,” terang ampleng (keturunan ke-15) Ki Ageng Wonolelo itu.

Bukti keseriusan Triska bertari ria, melanjutkan pendidikan ke seni Tari Universitas Negeri Yogyakarta. Penyuka nasi goreng ini ingin menjadi dosen. Impiannya tidak hanya menjadi penari, juga pendidik profesional.

Di mata pengidola RA Kartini ini, tari merupakan budaya yang sudah melekat pada diri bangsa. Berbagai macam jenis tarian ada di Indonesia. Apresiasi masyarakat melestarikan seni tari juga luar biasa. Triska melihat anak-anak hingga remaja, pun usia dewasa, belajar menari.

“Meski saat ini seni tari sangat bervariasi, tarian khas atau bisa disebut tari klasik daerah juga masih sangat dijaga dan dipertahankan hingga sekarang,” tandasnya.

Menjadi penari profesional, bukan konsumsi pribadi. Triska punya keinginan logis mengubah persepsi masyarakat, bahwa tari tidak hanya tontonan, juga bisa menjadi tuntunan.

Proses panjang yang dilalui Triska tidak mulus. Sempat dihadang kendala. Pernah disepelekan saat membuat karya. Namun ia tidak menyerah. Terus belajar. Setelah jadi, karyanya diapresiasi banyak orang. Bahkan saat diikutkan lomba tari, menang.

“Belajar dan bertanya bagaimana menjadi koreografer yang baik. Setelah dapat, langsung saya aplikasikan. Bikin karya, dan alhamdulillah banyak yang suka. Di situ saya belajar. Walau dijatuhkan, buatlah itu menjadi sesuatu yang bisa memotivasi dan memperbaiki diri. Pada akhirnya bukan rasa benci yang diucap, tapi ucapan terima kasih,” papar penari Sanggar Krincing Manis Jaban Tridadi Sleman, yang berprinsip: “Salah satu kepintaran yang dimiliki, saat tidak merasa lebih pintar dari orang lain.”

Pribadi bukanlah sesuatu yang sudah jadi, melainkan sesuatu yang mengalami pembentukan terus-menerus melalui pilihan tindakan, kata John Dewey, filsuf Amerika yang hidup tahun 18859-1952.

Proses pencarian Triska meski belum rampung, telah mencuatkan sebuah perjuangan empirik dilatari kecintaan mendalam. (Latief Noor Rochmans)

BERITA REKOMENDASI