Truk Tanpa Rekomendasi Dilarang Masuk TPST Piyungan

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Sejumlah upaya terus dilakukan Pemda DIY untuk mengatasi sampah yang ada di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul. Salah satunya pada tahun 2020 ini akan dibangun dermaga dan jalan. sehingga alat berat dan truk yang keluar-masuk semakin banyak. Karena tidak sekadar truk sampah, tapi juga truk untuk pembangunan.

“Nanti kalau proyek pengerjaan jalan dan dermaga dimulai, maka disepakati yang boleh naik hanya dump truck atau truk besar. Detailnya akan dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. Truk yang datang ke TPST Piyungan juga harus sudah membawa rekomendasi dari kabupaten/kota. Kalau rekomendasi diberikan petugas di lapangan, harus selektif betul. Jadi truk yang tanpa rekomendasi harus kembali,” kata Sekda DIY Drs K Baskara Aji di ruang kerjanya, Rabu (12/2).

Menurut Baskara Aji, kabupaten/kota akan memberikan surat rekomendasi sesuai kesepakatan bersama. Konsekuensinya, petugas di TPST Piyungan harus menjaga betul, truk yang tanpa rekomendasi tidak boleh masuk. “Karena kalau tanpa rekomendasi boleh masuk dengan alasan ‘mesakke’ sudah telanjur sampai di TPST Piyungan, aturannya menjadi tidak efektif. Karena itu, kami berencana menambah petugas di lapangan supaya mereka bisa menjalankan tugas dengan baik,” jelas Baskara Aji.

Sekda DIY mengungkapkan, kemungkinan untuk mencari alternatif tempat pembuangan sampah yang baru bukan sesuatu yang mudah. Karena ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan, misalnya tempat (lokasinya) ada dan memungkinkan, tapi kalau masyarakatnya tidak mau menerima, otomatis tidak bisa. Jadi untuk saat ini yang bisa dilakukan pembangunan dermaga dan jalan. Adapun kapan pembangunan dermaga itu akan dilakukan masih menunggu proses lelang oleh Dinas PUP ESDM DIY.

“Ke depan akan dibuat semacam terasering, lalu yang di atas akan ditimbun dengan tanah sehat, supaya bisa ditanami. Semoga saja proses Kerja Sama Pemeriontah Badan Usaha (KPBU) bisa lancar dan cepat terealisasikan, sehingga persoalan sampah di TPST Piyungan bisa segera diatasi,” ungkapnya.

Kabid Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Dinas PUP ESDM DIY Edi Indrajaya menyampaikan, teknologi pengelolaan sampah dibagi dua yaitu termal dan nontermal. Teknologi termal terdiri tiga jenis pengelolaan yaitu insinerator atau pembakaran, gasifikasi dan pirolisis atau pirolisa. Sedangkan teknologi nontermal terdiri sanitary landfill dan refuse derived fuel (RDF).

“Teknologi pengelolaan sampah pada dasarnya dibagi dua besar itu saja dengan output yang bermacam-macam. Teknologi termal ini contohnya dengan pembakaran sampah yang memamg mahal tetapi kelebihannya bisa langsung memusnahakan semua sampah. Sedangkan teknologi nontermal dengan RDF contohnya sampah dicacah dikeringkan diubah menjadi pelet untuk briket,” kata Edi.

Edi mengakui, semua teknologi pengelolaan sampah tersebut mempunyai nilai plus dan minus tersendiri, tergantung karakteristik sampah. Pemda DIY sudah banyak menerima tawaran dari berbagai negara untuk pengelolaan sampah di TPST Piyungan yang tengah disusun skema KPBU-nya, salah satunya dari Korea Selatan yang menawarkan teknologi termal melalui proses gasifikasi dan pirolisas yang bisa menghasilkan listrik maupun bahan bakar lainnya.

“Kita inginnya masalah sampah selesai dengan dampak lingkungan yang paling minim, luas lahan tidak terlalu besar, baru biaya layanan pengolahan sampah (tipping fee) paling kecil. Kita mencari teknologi yang lebih maju dari insinerator karena di negara-negara luar, teknologi tersebut sudah mulai ditinggalkan mengingat dampaknya terhadap lingkungan dan mahal,” terangnya. (Ria/Ira)

BERITA REKOMENDASI