Tujuh Gunungan untuk Masyarakat, Satu Kembali ke Kraton

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Setelah menyelesaikan prosesi Kondur Gongso (Kembalinya gamelan Kraton dari Masjid Kauman ke Kraton) Kamis (30/11/2017) malam, Kraton Yogyakarta melanjutkan hajad dalem peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW dengan melaksanakan prosesi Garebeg (Grebeg), Jumat (1/12/2017) siang. Berbeda dari tahun sebelumnya, kali ini Kraton membuat delapan gunungan yang juga spesial karena hanya dilakukan setiap delapan tahun sekali (tahun Dal).

Gunungan yang diberinama Bromo (Kutug) melengkapi tiga Gunungan Kakung (Lanang), Gunungan Estri (Wadon), Gunungan Gepak, Gunungan Pawuhan dan Gunungan Darat yang dibuat Kraton Yogyakarta. Gunungan Bromo dirasa sangat spesial karena hanya dibuat setiap tahun Dal meski kemudian hanya boleh diperebutkan kerabat Kraton di dalam Kraton Yogyakarta.

Tujuh gunungan lainnya tetap bisa diperebutkan untuk masyarakat di mana lima diantaranya di halaman Masjid Gede Kauman dan dua lainnya (Gunungan Kakung) diberikan ke Kepatihan dan Pura Pakualaman tentunya usai didoakan. Masyarkat pun tampak begitu antusias untuk tetap mengikuti dan ‘ngalap berkah’ sedekah dari Raja Kraton Yogyakarta Sri Sultan HB X.

Namun di sela prosesi tersebut di Kraton juga terjadi sebuah agenda tak kalah penting yakni Pisowanan di mana Sri Sultan miyos ke Bangsal Kencana dan menerima para kerabat Kraton seperti diceritakan salah satu penghageng Widya Budaya Kraton Yogyakarta, KRT Rinta Iswara. Bahkan, lebih spesial lagi bersama GKR Hemas, Sultan secara langsung melaksanakan prosesi menanak nasi putih untuk kemudian disajikan bagi kerabat yang ikut pisowanan dalam bentuk kepalan tangan.

Bersamaan dengan acara tersebut, pusaka-pusaka Kraton seperti Tombak Kanjeng Kyai Pleret, Kanjeng Kyai Megatruh, Dwaja Kanjeng Kyai Pareanom, hingga Kanjeng Kyai Tulung Wulung dikeluarkan dan diganti kain pembungkusnya. Prosesi tersebut dilaksanakan di dalam Kraton dan tak bisa disaksikan masyarakat umum. Nantinya, Gunungan Bromo juga bakal diperebutkan para kerabat Kraton di dalam lingkup Kraton dan menjadi sebuah hal menarik karena hanya terjadi setiap delapan tahun sekali.

Di Halaman Masjid Gede Kauman dan Alun-Alun Utara, masyarakat sangat antusias menyaksikan rangkaian prosesi Grebeg Mulud mulai keluarnya delapan gunungan melalui Pagelaran hingga masuknya kembali satu Gunungan Bromo ke Kraton. Tidak sedikit yang rela menginap di Masjid Gede Kauman setelah semalam mengikuti prosesi Kondur Gongso karena ingin ngalap berkah Gunungan Grebeg Mulud. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI