UGM Gencarkan Gerakan Restorasi Sungai di Code

SUASANA rindang, sejuk terlihat di bantaran Kali Code. Tepatnya di Jetisharjo, Cokrodiningratan, Jetis, Kota Yogyakarta. Air yang jernih ditambah kicauan burung dari kandang bantuan dari salah satu bank pemerintah menambah keasriannya.

Padahal, pada tahun 1970 kawasan ini terlihat kumuh. Tumpukan sampah menggunung, aroma tak menyenangkan selalu 'menyengat' warga sekitarnya. Singkat cerita, kondisi yang berbalik 180 derajat ini dilakukan oleh Pemerti Code pada tahun 209. Pemerti code diketuai Totok Pratopo ini dikukuhkan oleh walikota Yogyakarta H. Herry Zudianto pada 28 Juni 2009 lalu bertempat di jembatan Juminahan. Pemerti Code adalah kelompok masyarakat sepanjang tepi kali Code yang bersih dan hijau dan bertekad menjadikan Code sebagai kawasan wisata di kota Yogyakarta. 

Bersih Kali menjadi salah satu program yang terus digalakan sejak tahun 2010 dengan tagline 'Nol sampah' di kali Code 2010”. Hingga saat ini banyak sekali komunitas dan instanasi yang belajar cara merawat sungai secara alami dan pemberdayaan masyarakat.

"Bercerita Kali Code tidak terlepas dari peran budayawan YB Mangunwijaya atau dikenal Romo Mangun. Pada tahun 1970, Kali Code tidak dapat dimanfaatkan lagi karena sampah rumah tangga. Selanjutnya dilakukan usaha guna menciptakan lingkungan bersih dan menjadi alternartif wisata bagi warga sekitarnya," kata Ketua Asosiasi Sungai Yogyakarta sekaligus Sekretaris Pemerti Kali Code, Harris Syarif Usman SH, MKn kepada wartawan.

Usman menjelaskan Kali Code atau Kali Boyong (pada bagiam hulu) yang bermata air di Gunung Merapi ini keberadaanya sangat penting bagi warga DIY. Mata airnya digunakan mengairi sawah di Kabupaten Sleman dan Bantul. Termasuk sumber air minum. Namun, kali ini sering terkena banjir lahar dingin saat Gunung Merapi erupsi.

"Banjr lahar akan selalu terjadi apabili endapan lahar di Gunung Merapi terkena hujan sehingga akan mengalir melalui Kali Code dan menimbulkan dampak besar bagi penduduk di sepanjang bantaran sungai. Banyak rumah rusak atau hanyut terkena terjangan banjir lahar dingin itu pada erupsi tahun 2010," tandasnya.

Usman menambahkan pengukuhan Pemerti Code berupaya untuk menciptakan sebagai bagian dari kehidupan yang tidak terpisahkan, dan berhubungan dengan alam, serta kebersihan sungai harus dijadikan nilai di masyarakat. Tekad komitmen dan cita-cita untuk menciptakan Kali  Code yang bersih harus senantiasa dijaga dan jangan takut untuk dicibir orang  lain untuk menubuhkan semangat menjaga Kali Code. "Sungai dulu identik dengan tempat buangan sampah, ini harus kita balik sungai  menjadi sesuatu yang harus dipelihara, perlu ada revolusi nilai-nilai budaya  masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai," ungkapnya.

Gerakan Restorasi Sungai Indonesia

Langkah mengubah wajah Kali Code yang semakin menawan ini juga tidak terlepas dari Lembaga Pendidikan dan Pengabdian Universitas Gadjah Mada (LPPM-UGM) yang menjadi fasilisator sekaligus pengembangan Pemerti Code. Sejak tahun 2013 aktif mengadakan pertemuan rutin sesama komunitas Code hingga anggota komunitas peduli sungai lain di Indonesia.

"Kami saat ini sudah bergabung dengan 49 Whatts App Group serupa. Mereka berasal dari Aceh, Medan sampai Sorong dan Papua Barat. Akhirnya saling belajar dan menularkan virus kebaikan terhadap sungai. Selanjutnya, terbentuk sekolah sungai seperti yang ada di Pekalongan," kata Anggota Groundwater Working Group Fakultas Teknik UGM, Dr Ing Ir Agus Maryono.

Agus menjelaskan FT UGM akan mengembangkan Gerakan Restorasi Sungai Indonesia (GRSI)  yang dimulai dari Kali Code Yogyakarta. Maksud gerakan ini menggabungkan fungsi  ekologi, hidrologi, sosial dan budaya dari keberadaan sungai sehingga  menciptakan kesejahtraan bagi masyarakat sekitar. Gerakan ini juga tidak  menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan limpahan air dari drainase  perkotaan agar tidak terjadi banjir. Bahkan, saat ini mengembangkan sistem  drainase ramah lingkungan dengan prinsip tampung, resapkan, alirkan dan pelihara.

"Sistem ini diterapkan di Perumahan Jambusari dengan cara 'memanen air hujan'. Warga disana menggunakan sistem arisan dalam membuat instalasi pemanen air hujan (PAH). Saat ini sudah ada 10 PAH dan berharap bertambah hingga 50 PAH guna mencukupi kebutuhan air bersih 600 kk setempat," papar Agus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Agus menambahkan upaya lain dari gerakan ini adalah membentuk 'srikandi sungai' dimana kaum Ibu diberi pemahaman agar tidak membuang sampai di sungai. Bahkan, di Manokwari, Bali dan Kalimantan sudah membentuknya meski dengan nama berbeda. Semua upaya ini diharapkan agar sungai tetap bersih, sehat, produktif, aman, bermanfaat dan tetap lestari. (*)

 

 

 

 

BERITA REKOMENDASI