UIN Suka, CRCS UGM dan NICMCR Gelar Simposium Intoleransi Keagamaan

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRjogja.com – UIN Sunan Kalijaga bekerjasama dengan CRCS UGM dan NICMCR mengadakan Simposium dan Peluncuran Buku 'Costly Tolerance' di Teatrikal UPT Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jumat (18/5). Kegiatan ini penting untuk menekan berbagai bentuk intoleransi keagamaan yang terjadi di dalam masyarakat.

Hadir pembicara dalam kesempatan tersebut, Dr Phil Sahiron MA (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) Prof Leo J Koffeman (University Amsterdam Netherland), Zainal Abidin Bagir PhD (CRCS UGM) Robert Setio PhD (Universitas Kristen Duta Wacana) dan Pdt Dr Mery Kolimon (Universitas Kristen ArthaWacana).

Dr Phil Sahiron MA menjelaskan, pandangan intoleransi disebabkan pemahaman yang sempit terhadap kitab suci. Al Quran secara implisit atau eksplisit memuat intoleransi dan toleransi (ambivalensi). Tentunya perlu tafsiran ayat yang konstruktif, historis dan konstekstual. 

"Butuh analisis bahasa dan 'asbabul nuzul' untuk menjelaskan turunnya ayat toleransi," kata Sahiron.

Sedang Robert Setio PhD mengatakan, faktor toleransi menjadi mahal karena membutuhkan pengorbanan, adanya resiko, perlu konsistensi dan merupakan proses negosiasi. Toleransi tidak mudah dilakukan karena masih perlu negosiasi dan salah satu upaya reinterpretasi ayat intoleransi di kitab suci harus dilakukan untuk mewujudkan toleransi antar umat beragama.

Sementara itu Prof Mery Kolimuon yang mempresentasi hasil penelitiannya di Timor Nusa Tenggara Timur menyatakan, manusia membutuhkan batasan agama dan budaya. Hal ini penting sebagai identitas, solidaritas sosial dan transendensi Ilahi. Akan tetapi, batasan tersebut cair dan dinamis. 

Zainal Abidin Bagir PhD memberi pandangan pada buku 'Costly Tolerance' ini  sangat relevan dengan situasi pada masa ini. "Kalau kita berbicara batas toleransi, kita ingat aksi 212, Pilkada DKI, yang merefleksikan identitas dan batas. Kekhawatiran yang menyebabkan seseorang menarik batas, membuat batas-batas tertentu," ungkapnya.

Pada kesempatan sama Prof Leo J Koffeman mengatakan, toleransi adalah kunci bagi masyarakat multi-agama. Perdamaian dan keadilan dalam masyarakat demokratis dapat berkembang hanya dengan toleransi seperti di Indonesia. "Apa yang membuat toleransi mahal adalah tingkat teologis, tingkat pribadi dan tingkat kelembagaan," kata Leo. 

Editor buku 'Costly Tolerance' Dr Suhadi Kholil menjelaskan, buku ini lahir dari konferensi tahun 2015 yang diselenggarakan NICMCR bekerjasama dengan CRCS UGM dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Lima paper buku ini pernah terbit dalam jurnal internasional. "Hal ini yang menunjukkan bahwa papernya berkualitas, bagus dan layak diterbitkan dalam sebuah buku," jelasnya.

Sementara Direktur Netherlands-Indonesia Consortium for Muslim-Christian Relations (NICMCR) di Indonesia, June Beckx berharap tidak berhenti pada penerbitan buku, tapi menjadi batu loncatan yang bertolak pada 'costly tolerance', toleransi yang membutuhkan perjuangan, menuju 'priceless tolerance', toleransi yang tak ternilai harganya. (Feb)

BERITA REKOMENDASI