UJB Gelar Kuliah Daring Bersama Dirjen Kominfo

Editor: Agus Sigit

YOGYA, KRJOGJA.com – Universitas Janabadra (UJB) Yogyakarta menyelenggarakan kuliah daring menghadirkan dosen tamu, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI Semuel Abrijani Pangerapan BSc MM, Rabu (24/11/2021). Kuliah mengangkat tema ‘Membumikan Etika Digital Menuju Society 5.0: Tantangan Implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka’ dipandu moderator Dr Untoro Hariadi (Dosen Agribisnis UJB).

Pimpinan universitas beserta perwakilan dosen dan mahasiswa menyimak kuliah di Ruang Executif Kampus Pusat Universitas Janabadra. Sementara dosen dan mahasiswa UJB yang lain menyimak kuliah secara daring melalui zoom meeting ataupun live streaming di Channel Youtube Humas UJB.

Sebelum kuliah dimulai dilakukan penandatanganan kerja sama antara Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kemenkominfo RI dengan Fakultas Pertanian, Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Fakultas Teknik, Universitas Janabadra. Penandatangan kerja sama dilakukan oleh para dekan dan Sekretaris Jenderal Aplikasi Informatika Kemenkominfo RI Slamet Santosa SH MM, disaksikan Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Janabadra Drs Surjadiman MM dan Rektor UJB Dr Ir Edy Sriyono MT.

Dalam kuliahnya yang disampaikan secara daring, Semuel Abrijani mengatakan, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta pengguna. Dari jumlah itu 170 juta merupakan pengguna aktif dua platform besar (sosial media) yaitu Instagram (86,6%) dan Facebook (85,5%). Para pengguna internet di Indonesia itu menghabiskan rata-rata 8 jam 52 menit setiap harinya untuk berinternet. “Rata-rata waktu penggunaan internet di Indonesia ini menjadi salah satu yang tertinggi di dunia,” katanya.

Menurut Semuel, penggunaan internet di Indonesia ternyata masih belum sesuai yang diharapkan, lantaran masih banyak warganet yang mengakses konten internet negatif. Berdasar data statistik penanganan konten internet negatif pada situs, situs negatif yang paling banyak diakses adalah pornografi, disusul perjudian, penipuan dan HKI. “Untuk itu, upaya untuk menyiapkan SDM yang berwawasan kebangsaan, beretika, dan berdaya saing dalam memasuki era Society 5.0 harus terus dilakukan,” katanya.

Rektor UJB Dr Ir Edy Sriyono MT mengatakan, teknologi digital membuat seseorang mempunyai dua sisi, yakni sisi fisik dan sisi digital. Dualitas ini sering membuat masyarakat gagap dalam menyikapi perubahan. “Warga merasa dua sisi ini independen, padahal saling terkait. Contohnya seseorang yang menghujat orang lain di dunia digital bisa dihukum di dunia nyata,” katanya.

Menurut Rektor, tidak ada aturan yang pasti tentang kode etik di dunia digital, walaupun ada sejumlah konsensus yang ditaati bersama. Munculnya Revolusi Industri 4.0 memberikan alasan bagi masyarakat untuk menafsirkan ulang etika di ruang publik maupun ruang digital. “Penting untuk kita memiliki keterampilan digital dan keberanian moral untuk menjunjung teguh norma-norma yang ada dan bertindak secara etis di manapun kita berada,” katanya. (Dev)

 

UJB

BERITA REKOMENDASI