Uji Coba Semi Pedestrian Pagi dan Siang Dinilai Kurang Efektif

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Sejumlah evaluasi berkaitan dengan uji coba kawasan semi pedestrian Malioboro terus dilakukan oleh Pemda DIY dan stakeholders terkait. Di antaranya yang berkaitan dengan waktu pemberlakuan penutupan bagi kendaraan bermotor yang dinilai kurang efektif (khususnya pagi sampai siang) dan larangan bus masuk kota. Kendati ada sejumlah evaluasi, tapi uji coba kawasan semi pedestrian Malioboro akan tetap rutin diadakan pada Selasa Wage.

"Berdasarkan masukan dan evaluasi yang dilakukan, pelaksanaan uji coba semi pedestrian pada pagi dan siang dinilai kurang efektif. Hal itu dikarenakan cuaca yang cukup panas sehingga banyak orang tidak berbelanja. Selain itu, pada pagi dan siang hari belum begitu banyak aktivitas yang signifikan. Jadi ada wacana nanti pelaksanaan uji coba digeser menjadi sore sampai malam hari," kata Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Gatot Saptadi.

Bus Besar Masuk Kota Gatot mengungkapkan, selain beberapa hal di atas, dalam evaluasi uji coba kawasan semi pedestrian Malioboro, sempat muncul wacana bus besar tidak masuk Kota Yogyakarta. Namun untuk melaksanakan hal itu, butuh perencanaan matang dan komitmen dari pemerintah kota.

Konsekuensi dari adanya larangan itu, harus diimbangi dengan penyiapan kantong parkir untuk bus yang kemudian akan dibarengi dengan kebijakan lain. Jadi seandainya nanti hal itu benar-benar diterapkan pemerintah kota harus tegas.

"Saat ini sifatnya masih wacana, tapi kalau nantinya pemerintah kota setuju ya harus difasilitasi. Kami berharap kebijakan apapun yang nantinya diambil benar-benar dipraktikkan, biar tidak hanya menjadi sekadar teori dalam uji coba ini," ungkap Gatot.

Menurut Gatot, secara umum pelaksanaan uji coba kawasan semi pedestrian Malioboro cukup baik. Walaupun dalam pelaksanaannya dirinya tidak memungkiri masih ditemui adanya beberapa titik kemacetan. Kendati demikian kemacetan itu masih tergolong wajar dan bisa diatasi. Beberapa ruas yang mengalami kemacetan adalah titik Jalan Pabringan, Mataram dan sekitar kawasan Tugu.

"Kami cukup senang dengan uji coba Malioboro sebagai area semi pedestrian. Sambil menata alur wisatawan yang akan masuk ke Malioboro tentu pemerintah bisa sambil mencari alternatif kantong-kantong parkir dan melakukan pengaturan di antaranya apakah kantong parkir yang ada sudah cukup atau belum dan sebagainya," tutur Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) DIY Udhi Sudiyanto.

Perhatikan Alur Pengunjung Udhi menegaskan, di samping itu perlu diperhatikan alur pengunjung yang hendak ke dan dari Malioboro. Dengan moda transportasi yang digagas sekarang sudah cukup atau belum atau perlu diberi moda transportasi lain yang sesuai dengan konsep yang ada.

Dengan demikian, adanya perubahan seharusnya bisa memberikan solusi yang lebih baik. Meskipun disadari dengan perubahan ini pasti akan memberi masalah baru.

"Jadi berikanlah sebuah kenyamanan Malioboro yang baru. Jika Malioboro benar-benar menjadi daerah pedestrian, maka jadikanlah Malioboro sebagai wadah ajang kreativitas masyarakat DIY. Contohnya dengan tampilnya kesenian yang berkembang di desa-desa wisata, tempat pameran lukis, hiburan, olahraga dan sebagainya," terangnya.

Artinya dengan perubahan Malioboro tersebut diharapkan tidak membuat Malioboro kehilangan pasarnya (wisatawan), akan tetapi sebaiknya lebih meningkatkan wisatawan yang datang lebih banyak. Sehingga mereka yang memiliki bisnis di daerah ini juga merasa manfaat perubahan tersebut. (Ria/Ira)

BERITA REKOMENDASI