UMKM Dituntut Melek Digital Marketing

Editor: Agus Sigit

YOGYA, KRJOGJA.com – Para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di DIY bisa memanfaatkan promosi dan pemasaran melalui ajang Jogja Heboh 2020 yang mempunyai marketplace berupa aplikasi ‘jogjakita. Pelaku UMKM di DIY mendapatkan bekal pelatihan, pembinaan, pendampingan dan coaching melek digital marketing atau pemasaran dengan transaksi nontunai atau cashless.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) DIY Srie Nurkyatswi mengatakan, event Jogja Heboh yang menggaungkan transaksi nontunai bagi merchant-merchant dalam marketplace ‘jogjakita’, salah satu aspeknya meningkatkan kapasitas UMKM dari sisi keuangan. Pelaku UMKM dilatih tertib manajemen dan adminstrasi sehingga tidak hanya sekadar berjualan, tetapi mencatatkan transaksinya.

“Pelaku UMKM di DIY yang ikut serta dalam Jogja Heboh memperoleh pembelajaran mengenai administrasi produksi, penjualan dan transaksinya. Karena masih ada UMKM yang asal membuat produk dan asal jual selama ini. Kini, semua akan tercatat,” kata Siwi kepada KR

di Kepatihan Yogyakarta, Jumat (14/2).

Siwi menyampaikan, melalui keikutsertaan pelaku UMKM dalam Jogja Heboh ini, dapat dilihat dari sisi kapasitas, omzet dan asetnya mengalami kenaikan atau tidak. Karena parameter keberhasilan UMKM yang dilihat salah satunya kenaikan omzet. Dari ratusan ribu pelaku UMKM di DIY, baru 40 persen yang melek digital.

“Namun pelaku UMKM di DIY yang sudah melek digital tersebut belum semuanya memanfaatkan teknologi digital untuk bisnis atau usahanya. Tidak hanya kami, pihak perbankan, dinas/lembaga, komunitas, asosiasi, markey dan lainnya juga memberikan pendampingan agar UMKM semakin melek digital,” tegasnya.

Menurut Siwi, transaksi cashless via aplikasi ‘jogjakita’ juga merupakan wujud pembinaan kepada pelaku UMKM. Pelaku UMKM yang tergabung dalam marketplace ‘jogjakita’ mau tidak mau harus memanfaatkan digital marketing karena keinginan pasar mengarah ke sana. “Pemasaran online dan offline tetap harus dikembangkan pelaku UMKM di DIY. Sebab pemasaran online sudah menjadi tuntutan era Revolusi Industri 4.0. Sedangkan penjualan offline juga tetap diperlukan supaya berlatih melihat kemauan pasar dan belajar etika bisnis serta tetap difasilitasi dengan pameran,” tuturnya.

Siwi menyampaikan, untuk meningkatkan kapasitas UMKM agar lebih berkualitas dan kontinu, dilakukan melalui berbagai upaya, antara lain pembinaan, bimbingan teknis (bimtek), perubahan mindset atau pola pikir dan menjawab permasalahan yang dihadapi. “Kita juga dibantu berbagai pihak dengan memberikan fasilitas channeling pemasaran dan pembiayaan yang selama ini menjadi permasalahan klasik pelaku UMKM,” pungkasnya. (Ira)

BERITA TERKAIT