‘Unggah-ungguh’ Perlu Terus Diajarkan

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA (KRJogja.com) – Ajaran unggah-ungguh atau 'suba sita' merupakan bagian budaya Jawa yang bernilai luhur dan positif bagi kehidupan manusia. 'Unggah-ungguh' yang berarti juga sopan satun, tata krama dan tata susila, wajib dipelajari oleh masyarakat Jawa. Sikap tersebut bisa diterapkan dalam komunikasi atau berbahasa, tingkah laku dan cara berbusana.

Hal ini terungkap dalam acara 'Telaah Budaya Jawa' tentang 'Unggah-ungguh Ana Ing Budaya Jawa' di Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jalan Janti Banguntapan Bantul, Jumat (19/8) pagi. Pemateri, Titik Renggani SE MM, penyiar, penulis, produser siaran RRI Yogyakarta serta presenter TVRI Yogyakarta. Hadir dalam kegiatan ini, puluhan siswa SMP/SMA/SMK se DIY.

"Kita sebagai orang Jawa memang tak harus tiap hari mengenakan kebaya atau jarikan. Rapi, menutup aurat itu sudah sesuai dengan unggah-ungguh

. Maka itu, perlu terus dilakukan pembelajaran. Jangan sampai kita masyarakat Jawa kehilangan Jawanya," jelas Titik.

Kepala Balai Layanan Perpustakaan BPAD DIY, Dra Monika Nur Lastiyani MM menambahkan, kegiatan tersebut sebagai upaya BPAD DIY untuk terus mengenalkan budaya Jawa kepada masyarakat khususnya pelajar.Pelajar sebagai generasi muda bangsa harus mendapatkan wawasan dan pengetahuan tentang budaya. "Kami tidak ingin budaya 'unggah-ungguh' punah di masyarakat. Generasi terdahulu mendapatkan ilmu 'unggah-ungguh' melalui mata pelajaran budi pekerti," pungkas Monika. (R-1)

BERITA REKOMENDASI