Unjani Yogyakarta Miliki Banyak Keunggulan

YOGYA, KRJOGJA.com – Usia Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta (Unjani Yogyakarta) sebenarnya masih belia. Mendapat SK dari Kemenristekdikti pada 2 Februari 2018 dan diresmikan oleh Kepala Staf TNI Angkatan Darat pada 26 Maret 2018. Meski usianya baru sekitar setahun, namun sudah berhasil mendapatkan akreditasi "B" dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). 

Sertifikat akreditasi berdasarkan keputusan BAN-PT No 394/SK/BAN-PT/Ak-PBN/PT/IX/2019 yang menyatakan bahwa Unjani Yogyakarta terakreditasi dengan peringkat "Terakreditasi B". Sertifikat akreditasi ditandatangani di Jakarta 4 September 2019 oleh Prof T Basaruddin (Direktur Dewan Eksekutif).

Rektor Unjani Yogyakarta Dr. Drs. Djoko Susilo S.T.,M.T. menjelaskan, Unjani Yogyakarta merupakan penggabungan dari STIKES dan STMIK Jenderal Achmad Yani Yogyakarta. Walau merupakan perguruan tinggi baru, namun Unjani Yogyakarta bertekad dan berupaya keras agar akreditasi dari lembaga yang berwenang segera didapat.

Upaya pencapaian akreditasi Unjani Yogyakarta dengan memaksimalkan dokumen yang dibutuhkan seperti dokumen tata kelola, dokumen kurikulum dan pembelajaran, dokumen penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Selain itu Unjani Yogyakarta juga mengedepankan kuantitas dan kualitas kerja sama baik dalam dan luar negeri serta peningkatan prestasi mahasiswa di tingkat lokal, nasional dan internasional.

Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia khususnya para dosen Unjani Yogyakarta menjadi hal terpenting, salah satunya studi lanjut dan melakukan Tridharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat). Para dosen dituntut untuk memanfaatkan dan memaksimalkan peluang hibah kegiatan Tridharma secara aktif yang diselenggarakan Kemenristekdikti setiap tahun.

Dengan berbagai upaya nyata ini akhirnya status Akreditasi "B" bisa tercapai. "Target saya selanjutnya adalah, bagaimana supaya segera bisa meraih Akreditasi "A". Selain itu juga akan meningkatkan akreditasi semua prodi, dengan target naik setingkat. Bagi yang sudah "C" kita usahakan segera meraih "B" dan yang sudah "B" semoga segera naik "A". Karena itu prodi-prodi juga akan kita genjot agar berkembang pesat. Semua ada 18 prodi," kata Dr. Drs. Djoko Susilo, S.T.,M.T.

Ke depan, Unjani Yogyakarta akan terus memupuk keunggulan-keunggulan yang dimilikinya. Keunggulan tersebut antara lain menyangkut makna nama Jenderal Achmad Yani. Dalam hal ini, seluruh civitas akademika harus mengamalkan jiwa atau nilai-nilai kejuangan Jenderal Achmad Yani, yaitu pantang menyerah, gigih dalam berjuang, kedisiplinan dan kepemimpinannya.

Jadi mahasiswa selain belajar ilmu sesuai prodinya, karakternya juga dikembangkan. Keunggulan lainnya seperti yang dimiliki Prodi Rekam Medis, yang mempunyai lab terbaik di Indonesia. Tak kalah juga prodi keperawatan, kebidanan dan farmasi mempunyai fasilitas laboratorium yang lengkap. Untuk Prodi Psikologi menekankan psikologi militer dan menjalin kerja sama dengan Dinas Psikologi Angkatan Laut, serta kedepanya akan memperluas kerja sama dengan Dinas Psikologi Angkatan Darat dan Angkatan Udara. Begitu juga dengan Prodi hukum yang mempunyai ke-khasan hukum militer.

Sedang untuk bisa cepat meraih akreditasi "A", selain meningkatkan akreditasi prodi, Unjani Yogyakarta akan membenahi berbagai dokumen yang ada dan menugas belajarkan para dosen untuk studi lanjut. Saat ini beberapa dosen Unjani Yogyakarta studi lanjut S3 di Australia, UGM, dan UNS.

Sedang untuk pengembangan fasilitas, pada tahun 2020 direncanakan membangun gedung 6 lantai dengan biaya Rp 70 miliar. Beberapa tanah sekitar kampus juga sudah dibebaskan. "Jadi, rencana kami jelas, tidak main-main. Seperti TNI Angkatan Darat, kalau sudah bertekad akan diraih dengan sungguh-sungguh. Kita betul-betul ingin maju," tambahnya.

Terkait proses pendidikan, kekhasan yang dimiliki Unjani Yogyakarta adalah adanya pola kakak asuh. Spesifikasi ini mengadopsi pola pembinaan di Akademi Militer (Akmil). Dalam hal ini, mahasiswa senior disaring untuk jadi pembimbing adik-adiknya. Karena ada pola pembinaan kakak adik asuh, maka hubungannya seperti keluarga, belajar bersama, main bersama, saling mengingatkan, sehingga hubungan batin terjalin selama proses pendidikan, bahkan setelah selesai menempuh studi. Dengan pola pembinaan tersebut, meski jauh dari keluarga, orangtuanya tidak perlu khawatir. (Fie)
 

BERITA REKOMENDASI