UP 45 Kupas Penyebab Kejahatan Jalanan di DIY, Ternyata Ini yang Harus Dilakukan

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) UP 45 bekersama dengan Fakultas Hukum UP 45 menggelar diskusi daring “Yogya Anti Kejahatan Jalanan”, Selasa (19/04/2022) kemarin. Beberapa pembicara hadir seperti Direskrimum Polda DIY Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi, Budhi Purwanto dari Kejaksaan Tinggi DIY, Wahyu Kustiningsih Sosiolog UGM, Amin Al Adib dari UP 45, Siti Nurjanah serta Philip Joseph Leatemia direktur LKBH UP 45 Yogyakarta.

Fenomena kejahatan jalanan di Yogyakarta ini sepertinya dapat diibaratkan api dalam sekam, kenakalan remaja ini seakan tenggelam tetapi dapat menyulut api konflik secara tiba – tiba akibat faktor emosi sesaat, faktor eksistensi sesaat, pro hegemoni, ataupun narsisme kelompok. Kejahatan jalanan atau dalam hal ini dapat dikategorikan kenakalan remaja diantaranya yang dapat dipahami sebagai perilaku yang tidak wajar dari seorang remaja yang konsekuensinya adalah dapat dihukum oleh hukum pidana.

Kerentanan masa remaja memang sering menyebabkan berbagai kenakalan. Masalah lain yang kerap ditemui adalah gangguan psikis, ketidakseimbangan emosi, karakter menyimpang dan gangguan perilaku seiring dengan proses pendewasaan. Merujuk pada kajian yang dilakukan pada Kaukinan, tahun 2017 penyebab dominan maraknya kenakalan remaja saat ini adalah pengaruh lingkungan, teman bermain hingga faktor kompleks lainnya seperti internet, kurangnya perhatian orang tua, faktor sosial, hingga maraknya obat-obatan terlarang dan minuman keras.

Direskrimum Polda DIY Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi, mengatakan istilah klithih yang disebut-sebut di Yogyakarta sebenarnya bukanlah kejahatan jalanan tetapi lebih kepada jalan-jalan untuk mengisi waktu kosong, namun karena sekarang istilah klitih dijadikan sebagai kejahatan maka munculah anggapan bahwa klitih adalah kejahatan jalanan.

“Kejahatan jalanan biasanya dilakukan oleh anak-anak muda yang berusia kurang dari 18 tahun yang awalnya melakukan tawuran, saling mem-bully dan menaiki kendaraan bermotor secara berkelompok pada jam – jam tertentu yakni pada pukul 02.00 s/d 05.00 WIB. Kemudian apabila ketemu dengan kelompok yang lain dan usia yang kurang lebih sama, maka mereka akan saling menyerang. Hal ini dilakukan karena adanya motivasi untuk mencari identitas diri, merasa diri paling hebat dan kuat. Korban penyerangan ini jarang sekali dari kalangan orang tua ataupun orang dewasa, biasanya mereka akan menyerang anak-anak seusia mereka juga yaitu dari kalangan remaja,” ungkapnya.

Budhi Purwanto, yang mewakili Kejaksaan Tinggi Yogyakarta menegaskan penanggulangan kejahatan jalanan merupakan tugas bersama antara aparat penegak hukum, keluarga dan masyarakat karena seberat apa pun sanksi pidana yang diberikan belum tentu akan memberikan efek jera pada pelaku dan orang lain yang melakukan kejahatan serupa. “Para remaja ini haruslah diajak mengoptimalkan nilai-nilai budaya dan agama, serta perlu dibuatkan suatu wadah pembangunan karakter dan menghindari perbuatan melanggar hukum,” ucapnya.

Sementara, Philip Joseph Leatemia, direktur LKBH UP 45 Yogyakarta memberikan saran perlu adanya Perda di DIY yang khusus mengatur mengenai penanggulangan kejahatan jalanan. Untuk itu, DPRD, Pemda, Kejaksaan dan Kepolisian harus duduk bersama untuk membahasnya.

“Akademisi UP 45 Yogyakarta siap membantu dalam pembuatan naskah akademik Perda tersebut. Kita bersama, satu misi untuk mencegah terjadinya hal serupa ke depan,” pungkasnya. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI