Upah Murah, Buruh di DIY Pilih ‘Menjomblo’?

YOGYA, KRJOGJA.com – Aliansi Buruh Yogyakarta (ABY) mengklaim tahun 2017 upah buruh di DIY paling rendah dibandingkan wilayah lain di Pulau Jawa. Hal tersebut secara tak langsung membuat buruh DIY lebih miskin daripada buruh di daerah lain. 

Pernyataan tersebut disampaikan Sekjen ABY Kirnadi saat bertemu wartawan di Pagelaran Kraton Yogyakarta dalam agenda May Day Senin (1/5/2017) siang. Kirnadi mengungkap saat ini upah rata-rata buruh di DIY hanya mencapai Rp 1,4 juta per bulan di mana jumlah tersebut sangat rendah ketimbang survei upah layak 2017 yakni Rp 2,4 juta. 

"Ini salah satu penyebab juga buruh di DIY ini menjadi tuna wisma dan tuna asmara. Mereka tak mampu membeli rumah dan bahkan mengutarakan isi hati pada lawan jenis karena isi dompetnya tidak ada," ungkapnya. Karena upah buruh murah tersebut, mungkin saja menjadi alasan buruh di Yogya menjomblo.

Kirnadi juga mengungkap, hingga saat ini tak ada kebijakan pemerintah DIY yang berpihak pada buruh termasuk menyediakan rumah murah bagi mereka. "Harusnya ada upah layak dan perumahan untuk buruh tapi tak dilaksanakan sama sekali, contoh saja di Jawa Barat pemda memberikan tanah untuk rusunami buruh, tapi di Yogya tak ada sama sekali," imbuhnya. 

Dalam agenda May Day kali ini, buruh DIY berupaya meminta Pemda untuk mengubah sistem pengelolaan keputusan upah minimum yang dinilai tidak sesuai standar hidup layak. "Kita punya banyak dana yang digelontorkan tapi ternyata ketimpangan ekonomi masih tinggi dan upah juga rendah, kami duga ada yang tak benar dalam pengelolaan, karena itu kami minta gubernur benahi sistemnya," pungkas Kirnadi. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI