UTBK Bentuk Ujian Efektif dan Efisien

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Pendaftaran Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dalam Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) yang sempat mengalami kendala teknis perlu dijadikan bahan evaluasi bersama. Karena sebuah kebijakan baru apapun pasti mengandung konsekuensi logis bagi masyarakat yang terkait dalam kebijakan itu.

Oleh karena itu suatu kebijakan baru semestinya telah dipikirkan secara matang dampak apa yang ditimbulkan. Sehingga kewajiban penentu kebijakan (pemerintah) wajib mempertimbangkan dampak yang dirasakan oleh masyarakat.

“UTBK dalam SBMPTN merupakan bentuk ujian efektif dan efisien. Baik dalam waktu proses ujian, proses penilaian jawaban ujian dan tingkat kejujuran dalam mengukur kualitas akademik calon mahasiswa,” kata Ketua Dewan Pendidikan Kota Yogyakarta, Dr Ariswan.

Ariswan mengungkapkan, perguruan tinggi adalah gudangnya para ahli dalam bidang apapun. Kesulitan yang terjadi dalam proses UTBK karena panitia terkait belum melibatkan para ahli yang dimiliki oleh perguruan tinggi anggota SBMPTN. Kondisi ini perlu menjadi bahan evaluasi bersama agar ke depan kasus serupa tidak terulang.

Sementara Ketua Umum Pimpinan Pusat Perkumpulan Keluarga Besar Tamansiswa (PP PKBTS) Ki Prof Dr Ir Cahyono Agus DK MAgr Sc berpendapat pelaksanaan SBMPTN 2019 hanya memberlakukan satu metode tes, yaitu UTBK dengan 2 materi tes, yakni Tes Potensi Skolastik (TPS) dan Tes Kompetensi Akademik (TKA) dengan pilihan Ujian Sains dan Teknologi (Saintek) dan Sosial Humaniora (Soshum).

Kedua hal baru ini telah menjadikan calon peserta tes SBMPTN semakin kerepotan untuk mempersiapkannnya dengan baik. Guru besar Universitas Gadjah Mada itu mengungkapkan persiapan perangkat keras dan perangkat lunak harus lebih intens dan baik, agar terlaksana dengan lancar.

Sarana IT juga harus diperkuat sehingga server tidak down lagi saat pelaksanaan tes, sehingga tidak seperti saat pendaftaran awal saja beberapa sudah down dan tidak bisa diakses calon peserta. “Saya kira sampai sekarang masih banyak peserta yang masih kebingungan dan harus melakukan penyesuaian substansi. Karena materi utama tidak langsung persis seperti mata pelajaran yang diajarkan di SMA selama ini,” ungkapnya.

Lebih Cahyono menambahkan, guna menyikapi adanya kendala dalam pendaftaran UTBK, perlu pemahaman komprehensif tingkat lanjut. Sehingga peserta harus lebih banyak berlatih, misalnya lewat bimbingan tes. Metode ini juga memaksa peserta mulai mengikuti IT terbaru untuk mendukung pembelajaran 4.0 dan revolusi industri 4.0, serta mencegah kecurangan karena dengan IT bisa diantisipasi sejak awal. (Ria/War)

BERITA REKOMENDASI