Warga Positif Covid-19 Wajib Melaporkan ke Puskesmas

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Warga yang terpapar Covid-19 wajib melaporkan diri ke Puskesmas. Langkah tersebut, tidak semata-mata terkait pendataan, tetapi juga menyangkut penanganannya lebih lanjut.

”Jangan karena memilih isolasi mandiri (isoman), tidak lapor Puskesmas,” ungkap Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) DIY, dr Tri Wijaya.

Dari laporan yang diterima, banyak warga yang terpapar melakukan isoman tidak melaporkan ke Puskesmas. Sehingga selain tidak terpantau, juga tidak mengetahui lebih jauh bagaimana penanganan pasien isoman. Salah-salah tidak berupaya memulihkan anggota keluarga yang terpapar, malah bisa-bisa anggota keluarga yang lain ikut terinfeksi.

Dijelaskan dr Tri Wijaya, ketika melapor, Puskesmas akan memeriksa, menyampaikan langkah-langkah penanganan, keperluan memberikan obat-obat yang dibutuhkan. Dalam penanganan Covid-19, saat ini sudah disiapkan paket obat dengan menyesuaikan tingkat keluhannya yakni ada paket A, B dan C. Setelah itu, akan memantau pasien dari laporan yang diberikan.

Ketika diputuskan untuk dirawat melalui isoman, maka warga harus memetakan terlebih dahulu keluarga yang ada. Mana yang sakit dan mana yang tidak ada keluhan. Karena itu, ketika betul ada satu anggota keluarga yang terpapar, maka yang bersangkutan menyiapkan kamar khusus, kamar mandi dan WC yang tidak bercampur anggota keluarga yang lain.

“Selain tidak boleh kontak dengan anggota keluarga yang lain, juga harus mendapatkan kecukupan gizi, baik protein, karbohidrat dan vitamin,” ujar dr Tri.

Jika kondisi rumah dan anggota keluarga yang cukup padat, maka anggota yang terpapar hendaknya dibawa ke shelter atau rumah sakit untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Namun langkah tersebut tetap harus dalam koordinasi pihak Puskesmas.

Ditegaskan pula, komunikasi antara keluarga pasien dengan pihak Puskesmas harus terus dilakukan. Pihak keluarga jangan berhenti memberikan laporan. Memang ada yang mengeluhkan, kenapa laporan yang disampaikan ke Puskesmas, lambat untuk bisa menanggapi. Namun demikian, tidak ada kesengajaan pihak Puskesmas tidak menjawab.

Dalam penanganan pasien isoman, Ketua Umum Pengurus Besar IDI, Dr Daeng M Faqih, mengatakan pasien isoman yang meninggal biasanya mengalami pemburukan sehingga seharusnya sudah ditangani dokter di rumah sakit. “Banyak keluarga tidak mengerti bahwa kondisi pasien memburuk, misalnya saja saturasi rendah,” jelasnya.

Untuk mencegah kondisi tersebut, Dr Daeng menjabarkan dua tanda bahaya yang harus disadari pendamping pasien isoman. Jika berbagai keluhannya bertambah berat, ini bisa menjadi tanda pemburukan. Beberapa hal yang mungkin dialami seperti gangguan pernapasan, pnemonia, radang tenggorokan, napas cepat, bernapas pendek-pendek dan frekuensi napas tidak normal.

Frekuensi pernapasan normal manusia seharusnya 24 kali per menit, selain dari itu menandakan adanya gangguan. Daeng mengatakan gangguan napas artinya level pasien sudah naik menjadi bergejala sedang dan tidak lagi layak menjalani isoman. (Jon)

BERITA REKOMENDASI