Warisan Jaap Kunst Penting Bagi Etnomusikologi Nusantara

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Musik etnis nusantara yang telah didokumentasikan oleh Jaap Kunst selama masa kolonial, sangat lengkap dan beragam. Namun warisan Jaap Kunst yang jumlahnya sangat banyak tersebut tersebar diberbagai tempat seperti di Museum Nasional Jakarta, Universitas Amsterdam, Arsip Nasional Siaran Belanda Hilversum, Phonogrammarchiv Berlin dan Phonogrammarchiv Vienna.

 

Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud Hilmar Farid mengatakan, dokumentasi musik etnis nusantara Jaap Kunst adalah yang tertua. Jika warisan Jaap Kunst ini bisa 'diselamatkan' dan terinventarisir dengan baik, maka akan sangat berguna bagi pelestarian dan pengembangan etnomusikologi di Indonesia. Sejauh ini pencarian warisan Jaap Kunts berupa koleksi alat musik, rekaman silinder lilin (wax cylinder), piringan hitam dan glass positive.

"Melalui forum ini kita bahas bagaimana cara pengerjaan untuk mendokumentasi arsip rekaman musik etnis warisan Jaap Kunst ini," terang Hilmar dalam Diskusi Kelompok Terumpun 'Penyelamatan dan Pemanfaatan Warisan Jaap Kunst untuk Perkembangan Studi Etnomusikologi Nusantara' di Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DIY, Kamis (1/11/2018). Pembicara lain Dr Barbara Titus dari Universitas Amsterdam, Dr Sri Margana dari FIB UGM, Dr Citra Aryandari dari ISI Yogyakarta dan Nusi Lisabilla dari Museum Nasional Indonesia.

Hilmar mengusulkan dalam pengerjaannya (penyelamatan warisan Jaap Kunst) melibatkan mahasiswa bidang etnomusikologi sekaligus dijadikan bahan tugas akhir skripis, tesis dan disertasi mereka. Hasil penelitian yang dilakukan mahasiswa nantinya dapat dimanfaatkan dibanyak bidang, misalnya untuk kajian etnomusikologi atau dimanfaatkan dalam menciptakan musik. "Bayangan apa yang mau dilakukan terhadap warisan Jaap Kunst sudah ada, tapi sangat tergantung dari upaya penyelamatan warisan tersebut," katanya.

Menurut Hilmar, setelah arsip rekaman terinventarisir dengan baik, akan terlihat musik etnis apa yang hilang atau punah. Dengan berbekal rekaman yang ada, mahasiswa bisa mengenalkan kembali musik etnis berikut alat musiknya kepada masyarakat. Selain itu bisa mempelajari perubahannya, mengingat perkembangan musik sangat dinamis dengan adanya teknologi seperti pelantang mikrofon. "Justru perubahan inilah yang ingin kita pelajari," katanya.

Nusi Lisabilla mengatakan, pemindahan dan pencatatan piringan hitam milik Jaap Kunts tahun 2007 oleh Museum Nasional Indonesia tercatat jumlah piringan hitam sebanyak 1.236 keping
yang umumnya dalam kondisi berjamur. Dari jumlah itu 105 keping berlabel Bataviaasch Genootschap
dalam kondisi rusak. Sedangkan Dr Barbara mengatakan, prioritas keilmuan adalah menjaga keamanan bahan rekaman Jaap Kunst supaya tidak rusak. (Dev)

 

BERITA REKOMENDASI