Warung ‘Murakabi’, Kerinduan Kolaborasi Sosial – Ekonomi Gaya Masyarakat Bawah

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Sebuah proyek seni dari kelompok kerja “Piramida Gerilya” menyita perhatian pengunjung ARTJOG 2019. Sentuhan desain menarik berpadu interaksi sosial nyata menjadi hal berbeda yang lantas menjadi daya tawar tersendiri untuk disinggahi.

Tak herah sejak penyelenggaraan hari pertama ARTJOG 2019, 25 Juli lalu, karya yang diberi tajuk “Warung Murakabi” ini mendapatkan hasil nyata dari segi ekonomi. Puluhan juta Rupiah terhitung telah didapatkan dari karya yang diinisiasi beberapa seniman lintas disiplin yakni indieguerillas (Duo seniman Santi Ariestyowanti & Dyatmiko “Miko” Lancur Bawono), Singgih Susilo Kartono (Pegiat Gerakan Kreatif Berbasis Lokalitas), Lulu Lutfi Labibi (Perancang Busana), Agung Satriya Wibowo (Pegiat Budaya Pangan Berkelanjutan), Adamuda (Praktisi Periklanan) dan Sindhu Prasastyo (Pegiat Upcyle — SAPU).

Tak hanya menampilkan desain ruang menarik yang mengangkat potensi lokal saja, Warung Murakabi juga menyajikan berbagai hasil olahan sandang, pangan. Seluruhnya dapat dibeli pengunjung dengan harga yang sengaja dibuat menjangkau semua kalangan.

Agung Satriya Wibowo, salah satu seniman dan Pegiat Budaya Pangan Berkelanjutan mengungkap konsep yang sengaja diusung Warung Murakabi memang berdasar pada keprihatinan kehupan masyarakat belakangan. Munculnya budaya global mengubah sistem lokalitas yang sebenarnya dinilai memiliki banyak keunggulan.

“Kami melihat ada masalah dalam kehidupan sehari-hari, tentang lokalitas dan cara konsumsi, menurut kami ada yang kurang pas. Kami coba gali dari sisi budaya, mengembalikan warung dengan interaksi khasnya. Ada kerinduan ketika warung saat ini mulai tergeser oleh retail global atau marketplace,” ungkapnya, Senin (05/08/2019).

Dua bulan lalu, muncullah konsep Warung Murakabi yang dalam bahasa Indonesia berarti mencukupi seluruhnya. Tak lama, seniman yang terlibat di dalamnya pun mengeksekusi untuk ikut berpartisipasi dalam ARTJOG 2019 dengan tawaran tak hanya visual tapi rasa, bau hingga pendengaran juga terakomodasi di dalamnya.

“Secara keseluruhan ada 22 vendor pangan, kerajinan dan perawatan tubuh. Mereka punya value tersendiri seperti pelestarian lingkungan, alam dan lain sebagainya. Seluruhnya merupakan vendor lokal yang sekaligus mewujudkan kelestarian kehidupan dengan menjadikan lokalitas dan kemandirian sebagai pijakan,” imbuhnya.

Karya Warung Murakabi sendiri menurut Satriya tak akan berhenti pada gelaran ARTJOG 2019. Konsep warung yang mengembalikan kegiatan sosial ekonomi masyarakat bahkan hingga kalangan bawah ini berniat dihidupkan lebih jauh.

“Jadi, rencana sudah ada dan tim bisnis juga sudah jalan. Warung Murakabi ini kami ingin hidupkan di berbagai daerah dengan karakter dan kelebihan masing-masing. Tantangannya sekarang bagaimana bisa menjangkau betul masyarakat kalangan menengah ke bawah. Kami tak menampik di ARTJOG sebagai test case ini memang sebagian besar kalangan menengah ke atas, ini yang masih harus kami kaji terus formulasinya,” pungkasnya. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI