Waspadai Potensi Bahaya Infodemik Covid-19

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Kelompok lanjut usia (lansia) memiliki tingkat kefatalan paling tinggi jika tertular Covid-19, dibanding usia muda. Selain karena faktor usia, umumnya lansia memiliki penyakit penyerta (komorbid) yang kronis stabil seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes mellitus, gangguan saluran nafas kronis dan lain-lain. Sehingga Covid-19 memperparah penyakit-penyakit penyerta tersebut dan tak sedikit yang berujung pada kematian.

Demikian disampaikan penulis dan aktivis Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Yogyakarta Dr dr FX Wikan Indrarto SpA dalam acara Editorial Kedaulatan Rakyat (KR), Selasa (6/10) dipandu Redaktur Pelaksana KR, Primaswolo Sudjono. Editorial kali membahas soal kewaspadaan kaum lansia di masa pandemi dan potensi bahaya Infodemik Covid-19. Siaran ulang acara bisa disimak di channel Youtube Kedaulatan Rakyat TV.

Hal lain yang harus dipahami betul oleh masyarakat, menurut Wikan, adalah Covid-19 sangat mudah menular di kerumunan. Oleh karena itu Wikan mengimbau masyarakat (terutama lansia) untuk sebisa mungkin menghindari kerumunan. “Imbauan pemerintah daerah supaya Pedagang Kaki Lima (PKL) di Malioboro yang sudah senior (sepuh) untuk rehat dulu berjualan, sangat tepat, karena jika tertular Covid-19 risikonya tinggi,” ujarnya.

Wikan juga terus mengingatkan (agar masyarakat menyadari) bahwa kehidupan di masa pandemi ini, tidak lagi sama dengan kehidupan sebelum pandemi. Terlebih lagi Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengatakan bahwa Covid-19 masih akan tetap ada di tengah-tengah masyarakat dalam jangka waktu yang cukup lama. “Oleh karena itu, masyarakat harus bisa berdamai dengan Covid-19, dalam artian punya strategi, meskipun Covid-19 masih ada tapi tetap bisa beraktivitas dengan aman. Yakni dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Wikan memahami bahwa tinggal di rumah dalam waktu lama untuk menghindari paparan Covid-19, memang tidak mudah. Namun hal itu harus dilakukan oleh semua kalangan terutama lansia, untuk memutus rantai penularan Covid-19. Di era Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) ini, masyarakat harus membangun paradigma baru dalam beraktivitas sehari-sehari, yakni bekerja dari rumah atau belajar dari rumah. Termasuk tetap menjaga kebudaran, kesehatan fisik dan mental dari rumah, agar tidak stres. Dengan begitu orang masih tetap produktif meskipun berada di rumah. “Kita semua harus memahami bahwa untuk melawan Covid-19 tidak bisa dilakukan perorangan, tapi harus kompak sebagai satu komunitas masyarakat,” katanya.

Terkait infodemik atau informasi berlebih atau banjir informasi, menurut Wikan, infodemik sama bahayanya dengan pandemi itu sendiri. Masifnya infodemik tentang Covid-19 membuat orang semakin kesulitan memercayai informasi yang diterima, bahkan bisa menimbulkan kecemasan dan kepanikan. Perlu upaya bersama untuk memerangi infodemik ini, dimulai dari diri sendiri dengan selalu bijak menyikapi setiap informasi yang diterima. Lakukan konfirmasi ke pihak-pihak berkompeten jika ragu-ragu terhadap sebuah informasi dan jangan membagikan ke yang lain sebelum memastikan kebenaran informasi tersebut.

“Paling aman mengakses informasi terkait Covid-19 ya dari sumber resminya, misalnya situs resmi WHO, Kementerian Kesehatan, Satgas Covid-19 dan lain-lain. Atau bisa lewat media-media resmi (mainstream) seperti Surat Kabar Kedaulatan Rakyat yang dipayungi Undang-Udang Pers dan punya kode etik, sehingga informasinya bisa dipertanggungjawabkan,” pungkasnya. (Dev)

 

BERITA REKOMENDASI