Watak Ksatria Kebanggaan Dewa

SUATU ketika Prabu Harjunasasra bersedih hati dan gundah gulana atas kematian Patih Suwonda atau Bambang Sumantri. Karena itulah untuk menghilangkan rasa sedihnya, raja gung binathara itu memerintahkan Dasamuka yang sudah tunduk kepadanya agar mempersiapkan tempat berburu di hutan Keling.

Namun di tengah suasana sedihnya tersebut, tiba-tiba datang utusan dari negeri Simbar Rukma, anak buah Prabu Sasrakumala bernama Dewaratmuka. Ternyata kedatangannya dengan maksud meminta Dewi Citrawati untuk dipersunting Sasrakumala. Sontak hal itu membuat Prabu Harjunasasra marah dan memerintahkan Patih Surata untuk mengusir Dewaratmuka.

Demikian keseruan awal lakon 'Maespati Bedhah' yang dibawakan dalang Ki Margiyono dari Kowen Sewon Bantul dalam Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk di Kagungan Dalem Sasana Hinggil Dwi Abad Kraton Yogyakarta, Sabtu (9/7/2016) malam. Pergelaran tersebut merupakan persembahan Dinas Kebudayaan DIY didukung kerjasama KR-RRI-TVRI Yogyakarta dan Pepadhang.
Sementara di tempat lain Prabu Sasrakumala sedang menerima kehadiran Jamadagni. Sang raja meminta nasehat bagaimana cara merebut Dewi Citrawati dari tangan Harjunasasra. Hingga akhirnya Jamadagni mengganti wujud muridnya menjadi Harjunasasra dan diperintahkan melarikan Citrawati yang sedang sendirian di Maespati karena ditinggal sang suami mempersiapkan berburu.

Sedang dalam perburuannya Prabu Harjunasasra menemukan wadyabala Ngalengka sedang merusak grogol. Artinya Dasamuka tidak tulus membantunya. Di tengah keasyikan berburu itulah, Dewi Citrawati di Taman Maespati ditemui Harjunasasra jadi-jadian. Untunglah Citrawati bukan sembarang wanita. Ia mengetahui bahwa yang menemui bukan suaminya.

Seketika ia melarikan diri dan dikejar Sasrakumala. Tapi di tengah jalan, ia bertemu Harjunasasra asli yang lantas menghajar Sasrakumala hingga tidak berdaya. Melihat kondisi ini, Jamadagni tidak terima hingga ia maju ke medan laga membawa pusaka Wadung Parasu. Terkena pusaka ampuh tersebut, Harjunasasra binasa bersamaan muksanya Hyang Wisnu dari tubuhnya.

Melihat kejadian tersebut, Dasamuka segera mengejar Citrawati untuk dijadikan istrinya. Namun sang dewi memilih mati masuk dalam api. Dasamuka akhirnya memilih pulang ke Ngalengka dengan sedih hati bersama Prahastha. Sedang prajurit Maespati bertempur habis-habisan melawan pasukan Simbar Rukma hingga mereka mati sampyuh. Prabu Harjunasasra sendiri di kahyangan diterima Hyang Jagadnata dan diberi anugerah sebagai jangkebing dewa bergelar Sanghyang Kanwa. (M-5)

BERITA REKOMENDASI