‘Work from Home’ Bukan Halangan Berkarya

Editor: Ivan Aditya

KESIBUKAN GKR Bendara selama pandemi Covid-19 berkurang. Tidak seperti biasanya. Realitas ini disyukuri perempuan kelahiran 18 September 1986 itu.

“Keuntungan pandemi, makin banyak di rumah. Anak saya berkurang marah-marah, karena saya sering di rumah. Kami punya quality time yang lebih banyak. Work from home tidak jadi halangan. Lebih sedikit traveling time-nya, otomatis ongkos jalan irit,” ujar Bendara di Sanggar Tari Natya Lakshita Yogyakarta bersama sang kakak, GKR Hayu.

Di Kraton Yogya, Bendara menjabat Penghageng Kawedanan Punakawan Nitya Budaya. Divisi kraton yang membawahi Museum Kraton Yogya dan Widya Budaya. Museum kraton terbagi empat area yakni Taman Sari, Museum Kereta, Pagelaran dan Keben. Widya Budaya mengurusi kearsipan dan perpustakaan keraton, serta kapujanggan.

Menurut puteri Dalem yang sebelumnya bernama Gusti Raden Ajeng Nurastuti Wijareni ini, banyak sekali arsip menumpuk di Widya Budaya sejak zaman Sri Sultan HB IX yang akan dicoba digitalisasi. “Kalau untuk kapujanggan, dulu memproduksi kesusastraan. Kini lebih merestorasi babad atau manuskrip kraton. Menjaga,” jelas Bendara yang di luar keraton juga aktif di berbagai kegiatan diantaranya Ketua International Council for Small Business, Wakil Ketua 3 KONI DIY.

Berkait tugas menangani museum, Bendara punya keinginan merevitalisasi museum dengan standar tinggi. Ia juga ingin berbuat untuk pariwisata Indonesia, termasuk mengembangkan pariwisata kebudayaan.

“Jelajah wisata tidak hanya pemandangan dan ragam kuliner, juga petualangan tradisi budaya. Melalui napak tilas budaya, akan menceritakan kisah sejarah yang jarang terungkap serta tak terungkap untuk menambah wawasan,” kata sarjana S2 jurusan warisan budaya Napier University Edinburgh Skotlandia itu.

Napak Tilas Budaya merupakan salah satu program yang dijalankan Bendara. Meski putri raja, bukan hanya duduk manis di istana. Kerja bermanfaat tetap dilakukan, berbagai kesibukan di atas, amsal empirik aktivitas Bendara.

Sejak remaja Bendara sudah mandiri. Saat menimba ilmu di International School of Singapore, usia 17 tahun, pernah kerja di perusahaan retail di negara tersebut.

Ketika melanjutkan kuliah di International Hospitality and Tourism Management Institute di Swiss, Bendara magang di restoran dan hotel. Saat kerja di hotel, ia harus bangun pukul 04.00.

Bendara menikmati saat mengupas berkarung kentang dan wortel. Potret realis tersebut menegaskan, putri kraton tak beda masyarakat umum yang selalu bekerja dan bermanfaat bagi orang lain.

Sebagai publik figur, Bendara berupaya membangun hal-hal indah lewat berbagai media. Podcast-nya, Instagram, pun komentar-komentar langsung.

Di Instagram-nya yang ber-follower 85,9 ribu, Bendara menulis di biodatanya ‘Seorang putri raja Yogyakarta di tengah tantangan modernisasi tanpa melupakan asal usul leluhurnya’. Lewat foto-foto yang diunggah ke Instagram, Bendara membagi kalimat filosofis.

Seperti saat mengunggah foto menari, dilengkapi kalimat ‘Ragam tari tradisional Jawa atau bedhaya memilik makna refleksi diri’. Pun ketika mengunggah foto keluarga, kalimat indah ditulis Bendara, ‘Bersyukur bisa berkumpul bersama keluarga dan orang terkasih, menjadi vitamin hati untuk meningkatkan stamina karena merasa bahagia’. (Latief Noor Rochmans)

BERITA REKOMENDASI