Yogya Daftarkan Hanacaraka Jadi Domain Internasional

YOGYA, KRJOGJA.com –  Aksara Jawa atau Hanacaraka saat ini dalam proses pendaftaran ke Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN). Jika disetujui, keberadaannya seperti huruf Jepang atau China yang sudah  menjadi Internazionalize Domain Name (IDN).

Pendaftaran aksara Jawa ini dilakukan Dinas Kebudayaan DIY melalui Pengelola Nama Domain Indonesia (Pandi). Jika disetujui maka aksara Jawa akan menjadi IDN pertama di Indonesia.

“Proses sedang berjalan dan harapan kami nanti bila sudah disetujui aksara Jawa bisa digunakan secara menyeluruh karena nanti akan segera terenskripsi di gawai (handphone) bapak ibu,” jelasnya, Selasa (25/8/2020).

Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Sejarah, Bahasa, Sastra dan Permuseuman, Dinas Kebudayaan DIY, Rully Andriadi mengatakan tujuan digitalisasi dan pendaftaran IDN sebagai upaya mempertahankan Aksara Jawa agar tidak hilang, tetap lestari serta dapat diakses siapa saja.

Rully mengatakan perlunya IDN seperti sudah dilakukan di beberapa negara seperti Jepang dan Cina. Selain itu juga sebagai upaya memilenialkan aksara Jawa pada generasi milenial.

Pada kesempatan yang sama, Rully juga mengungkap ternyata beberapa anak muda cukup antusias menggunakan aksara jawa pada percakapan sehari-hari melalui whatsapp.

“Generasi milenial sekarang yang kita sangka tidak mulai mengenal aksara jawa ternyata tidak juga. Adik-adik ini ternyata sudah berkomunikasi dengan aplikasi wasap menggunakan aksara jawa,” tuturnya.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Sumadi mengatakan pengukuhan domain aksara Jawa menjadi IDN ditargetkan bulan November 2020. “Kita sudah mulai mudah-mudahan kalau disetujui bisa siap. Mudah-mudahan sebelum kongres Aksara Jawa ini lho, kita sudah punya ini (domain),” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Fraksi PAN DPRD DIY, Atmaji mengatakan perlunya penambahan jam belajar Bahasa Jawa di sekolah. ”Kalau ingin anak didik kita, generasi muda kita menguasai dan memahami kandungan tentang budaya jawa, maka jam-nya harus ditambah. Jangan hanya dua jam, minimal empat jam, kalau perlu lebih,” ungkapnya.

Menurut Atmaji, sangat penting penambahan jam belajar karena bukan hanya belajar bahasa Jawa, namun juga termasuk budaya Jawa yang kaya akan nilai filosofi yang mengekspresikan kehidupan sehari-hari. ”Jadi unggah-ungguh, toto kromo dan tepo seliro dalam perilaku orang jawa itu merupakan cerminan dari budaya yang ada. Dan ini yang membedakan dengan yang lain,” imbuhnya. (C-4).

 

 

BERITA REKOMENDASI