Yogya Menari Ajak Generasi Muda Cintai Budaya Negeri

YOGYA, KRJOGJA.com –  Pegiat budaya dan kesenian tradisional Renny Kusumowardhani menyebut saat ini banyak anak muda yang lebih suka kesenian dan budaya asing daripada budaya asli Indonesia. Padahal, kesenian asli Indonesia mendapatkan apresiasi besar di luar negeri dan warga asing. 

"Saya sering ikut belajar tari di kraton dengan maestro tari. Dan rupanya banyak warga asing seperti dari Jerman dan Jepang yang ikut. Bahkan  di Amerika Serikat banyak warganya yang pandai membawakan Wayang Golek,” kata Renny yang menghabiskan masa masa SMA dan kuliahnya di Yogyakarta tersebut.

Melihat banyaknya anak muda yang melupakan kesenian tradisionalnya tersebut, Renny bersama alumni SMAN 1 Yogyakarta angkatan 1993 akan menggelar Yogya Menari. Acara yang merupakan rangkaian reuni perak, 25 tahun ini akan diikuti oleh ribuan penari. 

"Yogya Menari merupakan salah satu bentuk kepedulian Keluarga Alumni Teladan Yogyakarta (KATY) pada pelestarian budaya Indonesia. Sebuah gerakan edukasi cinta budaya. Dalam hal ini mempelajari tarian secara mandiri (Youtube) dan menampilkan serentak bersama-sama dan baru pertama di Yogyakarta,” kata Renny.

Sebagai kordinator Yogya Menari, Renny kemudian memilih tari Jaranan karena dianggap sederhana dan mudah diikuti oleh masyarakat yang belum mempunyai skil menari. "Tari Jaranan ini adalah tari kreasi baru, yang khusus diciptakan untuk Jogja Menari 2018. Inspirasinya dari tarian Angguk yang berasal Kulon Progo dan dikemas menjadi lebih menarik,” jelas Renny.

Para penari akan menggunakan baju harus lurik dan penari laki-laki harus memakai surjan. "Saat ini kehidupan masyarakat modern, 90 persen bersentuhan dengan gadget. Hal ini membuat mereka lebih muda mengenal hip hop hingga K-Pop disbanding tarian-tarian Indonesia. Diharapkan dengan Yogya Menari membuat mereka cinta tradisi asli Indonesia dan mempelajarinya," pungkas Renny (*)

BERITA REKOMENDASI